Tags

, , , ,

Adabul Isti’dzan

anak-laki-laki-bertamu-mengetuk-pintu

Duhai indah sekali agama Islam kita ini, agama yang syumul dan kamil. Mulai dari bagaimana kita mengenal Rabb semesta alam, yang kepada-Nya lah kita semua akan kembali dengan dimula dari penciptaan yang begitu hebat. Bahkan sampai bagaimana kita menjalani kehidupan sehari-hari. Kita akan dapatkan semua telah diajarkan oleh Islam yang mulia ini, Masya Allah! Dan ternyata begitu banyak yang telah Allah Azza wa Jalla katakan sendiri dalam Al Quran maupun melalui sabda Rasulullah mengenai bagaimana kita menjalani hari demi harinya.

Ada banyak tuntunan tentang adab dan akhlak kita yang semestinya menjadi laku dikaitkan dengan keimanan dan tauhid pada Allah. Tauhid yang kokoh dan iman yang menghujam pada sang Khalik tentu tak cukup bila belum terpancar dari diri kita. Maka itulah, akhlak dan adab kita menjadi perisai yang dapat menunjukkan seberapa kita telah beriman dan bertauhid dengan lurus dan benar.

Termasuk bagaimana kita bergaul sehari-hari dengan lingkungan, baik itu lingkungan internal-eksternal, lingkungan terikat-bebas, lingkungan khusus –umum, atau berbagai macam lingkungan lain. Marilah kita simak bahwa ternyata Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menfirmankannya dengan haq dan jelas dalam Al Quran. Inilah yang terkait dengan adabul isti’zan, atau adab-adab dalam mengambil izin (arti secara bebasnya).

1. Al Quran Surat An Nur 27-29

Ayat 27. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.”

Ayat 28. “Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ayat 29. “Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.”

Ini adalah pedoman bagi kita bagaimana caranya bertamu dengan baik. Manusia dalam keseharian dan rumahnya tentu mempunyai banyak urusan dan bersifat pribadi masing-masing. Dengan inilah, Allah telah menjaga hak-hak kita sebagai tuan rumah dan mengajarkan para tamu untuk bersikap dengan baik. Pada ayat 29, ada rumah-rumah yang memang bersifat terbuka dan kita bebas memasukinya selama dalam waktu yang tepat, misalkan adalah toko-toko, warung berbelanja, dan area umum lain.

2. Al Quran Surat An Nur 61

Ayat 61. “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) di rumah kamu sendiri atau di rumah bapak-bapakmu, di rumah ibu-ibumu, di rumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, di rumah saudara bapakmu yang laki-laki, di rumah saudara bapakmu yang perempuan, di rumah saudara ibumu yang laki-laki, di rumah saudara ibumu yang perempuan, di rumah yang kamu miliki kuncinya[1051] atau di rumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.”  

[1051]. Maksudnya: rumah yang diserahkan kepadamu mengurusnya.

 Salam yang begitu hangat dan mulia, “assalamua’alaykum warahmatullah wa barakatuh”, salam yang bukan sekadar sapa, melainkan seuntai doa yang agung bagi yang dituju dan akan kembali terkabul bagi yang mengucapkannya.

3. Al Quran Surat An Nur 58

 Ayat 58. “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya’. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu[1047]. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu[1048]. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

 [1047]. Maksudnya: tiga macam waktu yang biasanya di waktu-waktu itu badan banyak terbuka. Oleh sebab itu Allah melarang budak-budak dan anak-anak dibawah umur untuk masuk ke kamar tidur orang dewasa tanpa izin pada waktu-waktu tersebut.

[1048]. Maksudnya: tidak berdosa kalau mereka tidak dicegah masuk tanpa izin, dan tidak pula mereka berdosa kalau masuk tanpa meminta izin

 4. Al Quran Surat An Nur 29

Ayat 29. “Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.”

Menegaskan pada poin sebelumnya, maka diperbolehkan bagi kita memasuki fasilitas-fasilitas umum pada waktu yang telah ditentukan.

5. Al Quran Surat An Nur  62

Ayat 62 “(Yang disebut) orang mukmin hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad), dan apabila mereka berada bersama-sama dengan dia (Muhammad) dalam suatu urusan bersama, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sungguh orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. maka apabila mereka meinta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang engkau kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Subhanallah!, jauh sebelum hari ini, Allah pun telah menandaskan perihal perizinan kita pada suatu lingkungan tempat biasa bergaul, berinteraksi, atau  mengaktualisasikan diri. Di dalam ayat tersebut, Allah menyebut dalam suatu ‘urusan bersama’ yang mana tentu di dalamnya dibahas atau diagendakan banyak kemaslahatan umat. Maka kita pun mempunyai keterikatan yang melingkupinya. Kita tidak boleh meninggalkan urusan tersebut tanpa kabar atau tepatnya kabur dan melarikan diri. Hal kecil tentang hilangnya seseorang yang merupakan anggota dalam lingkungan tersebut tentu akan berdampak bagi kontribusi maupun berbagai urusan di dalamnya.

Allah telah mengajarkan kita untuk meminta izin terlebih dahulu bila ada keperluan yang mengharuskan kita tidak seperti biasanya berada dalam majelis atau agenda tersebut. Ketika permohonan izin itu kita pinta, seyogyanya kita belum serta merta dapat melenggang meninggalkan urusan tersebut, melainkan apakah kita telah diizinkan atau belum.

Bahkan dalam ayat tersebut, Allah memberi kaidah pada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam untuk memberikan izin dengan diiringi memohonkan ampunan bagi yang berhalangan tersebut.

Masya Allah!, Allah yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang  bagi semua hamba-Nya.