Tags

, ,

menikah

Setelah seorang laki-laki dan perempuan melaksanakan akad nikah, maka mereka disunnahkan untuk melaksanakan walimah sebagai wasilah untuk mengumumkan pernikahannya. Sebagian ulama lain mewajibkan adanya walimah ini berdasarkan hadits Rasulullah yang menyuruh Abdurrahman bin ‘Auf untuk menyelenggarakan walimah, “Adakanlah walimah walaupun hanya dengan menyembelih seekor kambing.” (HR Bukhari-Muslim).

Walimah pernikahan seringkali dilaksanakan dengan bentuk pesta sesuai dengan adat dan tradisi masyarakat setempat. Namun, seringkali pelaksanaan walimah ini tidak sesuai dengan tuntunan agama Islam. Berikut ini beberapa hal yang merupakan pelanggaran yang umumnya terjadi di dalam perayaan pernikahan yang teradi di masyarakat umum.[1]

Pertama, saling memakaikan cincin kawin. Cincin ini dipakai oleh seorang lelaki, dia disebut dengan cincin kawin, sebuah cincin yang dikenakan oleh seseorang pada salah satu jemarinya. Banyak orang yang beranggapan bahwa aqad pernikahan sangat tergantung dengan cincin ini, terlebih jika cincin tersebut berasal dari emas, padahal pemakaian emas dilarang oleh banyak hadits.

Syaikh Nashiruddin Al Albani berkata, “Memasangkan cincin kawin di tangan pengantin wanita termasuk kebiasaan orang-orang Nashrani. Padahal kita telah diperintahkan untuk menyelisihi mereka.”

Kedua, memajang pengantin di kursi pelaminan, yaitu duduknya suami istri di tempat yang tinggi dan disaksikan oleh banyak orang.

 “Di antara kemungkaran yang sangat besar,” kata  Syaikh Abdullah bin Baz, “Adalah menyediakan pelaminan bagi kedua mempelai laki-laki dan wanita di hadapan para tamu yang hadir, sehingga seorang lelaki melihat kepada wanita-wanita yang bukan mahramnya dengan pakaian mereka yang sempurna, bahkan tekadang keluarga suami dan istri bisa mondar-mandir pada acara tersebut sehingga menimbulkan campur baur antara kaum pria dan wanita dan mengakibatkan timbulnya fitnah.”

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Janganlah kalian memasuki wilayah kaum wanita.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ketiga, menghadirkan para biduanita untuk mendendangkan lagu-lagu dalam acara pernikahan dan dibarengi dengan alat-alat musik. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini termasuk kemungkaran yang paling besar.

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda: Akan ada dari umatku sekelompok kaum yang menghalalkan zina, sutra, khamar dan musik…” (HR Bukhari)

Dalam syari’at hanya diperbolehkan memukul rebana bagi para  wanita dengan syarat tidak dibarengi dengan nyanyian yang cabul dari biduanita.

Aisyah berkata, “Pada suatu hari Rasulullah masuk ke tempatku. Ketika itu disampingku ada dua gadis perempuan budak yang sedang mendendangkan nyanyian (tentang hari Bu’ats)  Kulihat Rasulullah berbaring tetapi dengan memalingkan mukanya. Pada saat itulah Abu Bakar masuk dan ia marah kepadaku. Katanya, ‘Di rumah Nabi ada seruling setan?’ Mendengar seruan itu Nabi lalu menghadapkan mukanya kepada Abu Bakar seraya berkata, ‘Biarkanlah keduanya, hai Abu Bakar.’” (HR Bukhari dan Muslim)

Keempat, berlebihan dalam menyelanggarakan walimah, menyewa gedung di hotel mewah, gedung resepsi dengan harga yang mahal, seharusnya  bagi seseorang untuk bertindak ekonomis dalam masalah ini dan meninggalkan sikap berlebihan.

“…makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.  (QS Al-A’raf: 31)

Kelima, banyak tamu wanita dan pengantin yang memakai pakaian transparan dan terbuka atau pakaian yang ketat sehingga membentuk lekuk-lekuk badan, atau mengenakan pakaian yang tidak mencerminkan rasa malu sekalipun hal itu di hadapan para wanita saja. Bahkan sebagian mereka juga bertabarruj (berhias diri) sebagaimana berhiasnya kaum kafir, baik dengan cara mencabuti bulu alis, memanjang-kan kuku dan mengecatnya dan semisalnya. Padahal berhias seperti itu telah dilarang Rasulullah.

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitab Shahihnya dari Abi Hurairah RA bahwa Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda: “Dua golongan dari penghuni neraka yang belum aku saksikan, suatu kaum yang memiliki cemeti seperti ekor sapi yang dipergunakan untuk memukul orang lain, dan wanita yang berpakaian namun telanjang, berlenggak lenggok dan bergoyang, kepala mereka seperti  punuk unta yang miring, mereka tidak akan masuk surga dan tidak pula mendapatkan wanginya surga, padahal sungguh wangi surga ini di dapatkan pada jarak ini dan ini”.

Keenam, begadang sehingga akhir malam sebelum hari pernikahan, atau bahkan sebagian hari pesta perkawinan yang berakhir hingga mendekati shalat subuh. Hal ini bisa mengakibatkan menyia-nyiakan shalat subuh, sehingga dengan demikian seorang muslim telah menghalangi dirinya dari pahala dan balasan Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan menjerumuskan diri pada siksa-Nya.


[1] Beberapa Pelanggaran dalam Pernikahan