Tags

, , , , ,

akhwat    “Isteri,” kata Syaikh Sayyid Sabiq, “Merupakan penenang bagi suaminya. Juga tempat menyemaikan benihnya, teman hidupnya, pengatur rumah tangganya, ibu dari anak-anaknya, tambatan hatinya, tempat menumpahkan rahasia dan mengadukan nasibnya. Ia merupakan tiang rumah tangga yang paling penting karena ia menjadi tempat belajar bagi anak-anaknya, tempat mereka mendapatkan berbagai bimbingan nilai dan sifat-sifat, tempat anak-anak membentuk emosinya, memperoleh pendidikan bakat dan bahasanya, tempat memperoleh banyak adat dan tradisinya, mengenal agamanya, dan tempat memperoleh latihan bermasyarakat.”[1]

“Oleh karena itu,” lanjut beliau, “Islam menganjurkan agar memilih isteri yang shalihah dan menyatakannya sebagai perhiasan terbaik yang sepatutnya dicari dan diusahakan untuk mendapatkannya dengan sungguh-sungguh.”[2]

Rasulullah bersabda, “Pilihlah untuk air manimu (rahim yang bagus) dan menikahlah dengan jodoh yang  sederajat serta nikahkanlah (anak-anakmu) dengan orang seperti mereka.” (HR Ibnu Majah, shahih)

Rasulullah bersabda, “Perempuan itu dinikahi karena empat hal, karena kecantikannya, karena keturunannya, karena hartanya, atau karena agamanya. Akan tetapi, pilihlah yang beragama agar kamu selamat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ustadz Cahyadi Takariawan menyebutkan empat kepentingan dari kriteria yang disebutkan dalam hadits tersebut sebagai motivasi seseorang memilih isteri. Pertama, kepentingan ekonomi yang diungkapkan dengan li maliha, karena hartanya. Bahwa seorang laki-laki memilih calon isteri yang memiliki harta sehingga bisa memberikan berbagai fasilitas kemudahan dalam kehidupan setelah berkeluarga nanti.

Kedua, kepentingan sosial, yang diungkapkan dengan li nasabiha, karena keturunannya. Seorang laki-laki memilih perempuan dari keturunan yang baik-baik, dan memperhatikan kemampuan reproduksi agar kelak bisa memiliki keturunan yang baik pula.

Rasulullah bersabda, “Nikahlah perempuan pencinta lagi dapat melahirkan anak yang banyak, agar aku dapat membanggakan jumlahmu yang banyak di hadapan para nabi pada hari kiamat nanti.” (HR Ahmad)

Ketiga, kepentingan fithrah kemanusiaan, yang diungkapkan dengan li jamaliha, karena kecantikannya. Seorang laki-laki menikahi perempuan karena faktor kecantikan, sebagai bagian dari pemenuhan kepentingan fithrah dan  penguat kecenderungan dan ketertarikan kepada pasangannya. Banyak laki-laki yang memperhatikan kecantikan calon isteri kendatipun kecantikan itu amat relatif dan bersifat sementara saja. Akan tetapi itulah fithrah kemanusiaan yang cenderung kepada keindahan.

Keempat, kepentingan agama, yang diungkapkan dengan li diniha, karena agamanya. Perempuan dinikahi karena kebaikan kondisi kebaikan agamanya, yang akan menjadi jaminan kebaikan kepribadian dan urusan keluarga nanti. Dengan kepentingan agama ini, seorang laki-laki telah meletakkan pondasi yang kokoh bagi kehidupan keluarganya. Itulah sebabnya Rasulullah menjelaskan dengan, “Pilihlah berdasarkan agamanya agar selamat dirimu.”[3]

Pemilihan yang tepat dan orientasi yang tidak bersifat dominasi keduniawian akan membawa keberkahan bagi kaum lelaki dan perempuan sekaligus. Bahkan, akan membawa keberkahan bagi anak turunnya. Bahkan, pemilihan isteri yang shalihah sebagai calon ibu merupakan hak seorang anak.

Abul Aswan Ad Duali berkata kepada putranya, “Wahai anakku, aku telah berbuat baik kepadamu semenjak kalian kecil hingga dewasa, bahkan semenjak kalian belum lahir.”

“Bagaimana cara ayah berbuat baik kepada kami sebelum kami lahir?”

“Ayah telah memilihkan untuk kalian seorang wanita terbaik diantara sekian banyak wanita, seorang ibu yang pengasih dan pendidik yang baik bagi anaknya.”

Seorang ayah harus benar-benar memperhatikan keadaan putrinya dan menentukan laki-laki yang tepat yang akan dinikahkan dengan putrinya itu. Ayah adalah wali yang bertanggungjawab terhadap keadaan putrinya agar ia tidak mengalami keburukan-keburukan dari suaminya nati.

Imam Al Ghazali berkata, “Berhati-hati menjaga hak anak perempuan itu lebih penting karena ketika sudah menikah, dia menjadi budak yang tidak mudah melepaskan diri, sedangkan suaminya bebas menceraikannya kapan saja ia suka.”

Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Hasan bin Ali, “Aku mempunyai seorang putri. Siapakah kiranya yang patut menjadi suaminya menurutmu?” Jawabnya, “Seorang laki-laki yang bertakwa kepada Allah. Karena jika ia senang, ia akan menghormatinya dan jika ia sedang marah, ia tidak suka berbuat zhalim kepadanya.”

Jika seseorang menikahkan seorang wanita dengan seorang laki-laki yang fasik, sesungguhnya ia telah menyiapkan neraka bagi perempuan tersebut. Ia akan menjerumuskannya dalam kesengsaraan dan kemungkinan akan sulit membawa kembali perempuan itu yang sudah menjadi isteri orang lain.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang menikahkan saudara perempuannya dengan laki-laki fasik, berarti ia telah memutuskan tali keluarganya.” (HR Ibnu Hibban, dha’if)

Seorang yang ingin menikahkan wanita dalam tanggungannya harus benar-benar jeli dan teliti dalam memilihkan suami baginya. Jangan samapi ia memilih seserang laki-laki dengan dasar penampilan fisik semata, kekayaan, ketampanan, keturunan orang terhormat, tapi melupakan faktor agama.

Suatu ketika, Rasulullah bertanya kepada para sahabat, ketika ada seorang laki-laki kaya lewat di hadapan beliau, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Jawab para sahabat, “Kalau dia meminang wanita pasti diterima, kalau menolong orang akan berhasil, dan jika bicara, akan didengar orang.” Rasulullah terdiam. Tidak lama kemudian, lewat seorang laki-laki miskin di hadapan beliau. Sembari memandang para shahabat, beliau bertanya, “Bagaimana pendapat kalian tentang orang ini?” Jawab para sahabat, “Jika meminang wanita pasti akan ditolak, jika menolong tidak akan berhasil, dan jika bicara tidak akan didengar.” Rasulullah bersabda, “Orang ini lebih baik dibandingkan orang yang pertama kali sebanyak isi bumi.” (HR Bukhari)


[1] Fiqih Sunnah

[2] ibid

[3] Di Jalan Da’wah Aku Menikah