Tags

,

Sebelum seseorang mengambil keputusan besar untuk menikahi seseorang. Ia harus mempersiapkan dirinya untuk memulai sebuah kehidupan rumah tangga. Sebuah kehidupan baru yang tidak mudah untuk dijalani, namun penuh dengan kebahagiaan dan tanggung jawab. Terutama dari pihak laki-laki yang akan mengambil tanggung jawab amanah seorang ayah kepada putrinya untuk dipindahkan kepada dirinya.

Maka, persiapan diri sebelum akad nikah adalah hal yang seharusnya diperhatikan oleh masing pihak. Ustadz Cahyadi Takariawan menyebutkan beberapa aspek persiapan bagi mereka yang hendak menikah.[1]

wedding plan

1. Persiapan Moral dan Spiritual

Kesiapan ini ditandai dengan keyakinan kuat, tanpa keraguan, untuk menikah  dengan segala konsekuensi di belakangnya. Seorang laki-laki harus siap untuk bertanggung jawab menjadi pemimpin bagi rumah tangganya, isterinya, dan anak-anaknya kelak. Termasuk beban yang harus dipikulnya atas posisinya sebagai qawwam. Seorang perempuan harus siap untuk membuka ruang intervensi dengan mitra barunya sekaligus pemimpin rumah tangganya. Kesiapan untuk mengurangi otoritas terhadap dirinya karena harus tunduk terhadap prinsip syura’ dan keputusan suami. Kesiapan untuk mengandung, melahirkan, menyusui, dan mendidik putra-putrinya kelak.

Lak-laki yang menjaga kehormatannya dan menghindarkan diri dari perbuatan maksiat, maka ia akan menikah dengan seorang perempuan yang juga menjaga kehormatannya dan menghindarkan diri dari perbuatan maksiat. Perempuan yang menjaga kehormatannya dan menghindarkan diri dari perbuatan maksiat, maka ia akan menikah dengan seorang laki-laki yang juga menjaga kehormatannya dan menghindarkan diri dari perbuatan maksiat.

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (An Nur: 26)

Cara untuk mempersiapkan moral dan ruhani adalah dengan meningkatkan pengetahuan agama dan perbaikan diri secara kontinyu melalui berbagai sarana seperti usrah, ta’lim, berguru, membaca, dan sebagainya. Seiring dengan proses pembelajaran itu, ia juga harus mengamalkan apa yang ia dapatkan dalam perbuatan-perbuatan shalih, beribadah wajib dan sunnah, dan berdoa untuk mendapatkan keteguhan hati. Hendaknya ia juga senantiasa dekat dengan lingkungan shalih yang akan menunjang dirinya untuk menjadi manusia yang shalih.

2. Persiapan pengetahuan dan konsepsional

Kesiapan konsepsional ditandai dengan dikuasainya berbagai hukum, etika, aturan, dan pernak-pernik kerumahtanggaan. Laki-laki dan perempuan harus tahu berbagai hukum fiqih terkait berbagai fenomena berkeluarga, seperti kepemimpinan, thaharah, jima’, nikah, thalaq, dan pendidikan anak. Mereka juga harus memahami peran dan posisi masing-masing dalam organisasi keluarga, dan mengetahui hak dan kewajiban masing-masing pasangan terhadap dirinya.

Cara untuk mendapatkan persiapan konsepsional dan pengetahuan adalah dengan banyak belajar, seperti diskui, bertanya kepada ahli, mengikuti kajian, ta’lim, pembekalan pernikahan, membaca, dan mendengarkan berbagai ceramah. Umar bin Khathab memesankan kepada kaum laki-laki agar mengajarkan isteri mereka kandungan surat An Nur.

3. Persiapan fisik dan seksual

Kesiapan fisik ditandai dengan adanya kesehatan yang memadai sehingga kedua belah pihak akan mampu melaksanakan fungsi diri sebagai suami dan isteri. Kemampuan ini meliputi kemampuan dalam melakukan hubungan seksual dan pengetahuan seputar hal itu.

Pemeriksaan kesehatan sebelum menikah adalah salah satu cara untuk mendeteksi kondisi kesehatan masing-masing pasangan. Untuk menjaga kesehatan dan kebugaran, laki-laki dan perempuan, hendaklah rajin melaksanakan olahraga, makan makanan yang mencukupi asupan gizi, dan cukup istirahat.

4. Persiapan material

Materi merupakan salah satu sarana ibadah yang menunjang hidup dan hajat manusia. Pernikahan membawa konsekuensi terhadap suami untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan memberi nafkah kepada isteri. Mereka wajib menyediakan kehidupan bagi isteri, konsumsi, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan, dan transportasi. Semua ini merupakan tanggung jawab suami.

Laki-laki harus memiliki kesiapan untuk menafkahi keluarganya, sehingga sebelum menikah, ia harus mengetahui pintu-pintu rezeki yang akan mengantarkannya dalam pemenuhan kewajiban. Kesiapan laki-laki untuk menafkahi dan perempuan untuk mengelola keuangan tidak diukur dari jumlah tersedianya dana untuk menikah. Namun, etos kerja dari pihak laki-laki untuk berusaha mencari nafkah dengan seluruh kemampuan yang dimiliki. Demikian pula perlu persiapan dari pihak perempuan untuk mengantisipasi kondisi-kondisi darurat.

5. Persiapan sosial

Pernikahan akan membawa konsekuensi kepada mereka untuk dianggap sebagai organisasi terkecil dalam masyarakat. Mereka akan dilibatkan dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan yang ada. Terutama yang berkaitan dengan kehidupan bertetangga dalam sebuah wilayah kecil seperti RT atau kampung. Cara yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan kesiapan sosial adalah dengan membiasakan diri terlibat, berinteraksi, dan mengambil peran dalam kegiatan serta kemajemukan masyarakat.


[1] Di Jalan Dakwah Aku Menikah