Tags

, , , , , , , ,

sawunggalih

Di atas kereta sawunggalih pagi ini, kutulis sesuatu jejak supaya menjadi pengingat dan nasihat.

Hampir dua tahunan ini saya jadi sering berpesiar, heheby train or by aeroplane. Goes to Purwokerto, Jogja, or goes to Manado, lebih seringnya saya sendiri tanpa mas Priyayi Muslim yang menemani, atau malah ditemani lelaki asing yang duduk di sebelah kursi T.T

Mas priyayi pernah bilang  bahwa waktu safar adalah waktu yang mustajab untuk berdoa berdasarkan Hadist Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Awal awal saya naik pesawat sendiri, kala itu sedang menuju ke Manado, grogi dan cemasnya keterlaluan…takut ada apa-apa >,< Mau tidur pun sama sekali tak bisa. Jadi sepanjang jalan saya rapal doa-doa, selingi membaca Quran dan shalawat…

Doa yang paling sering terpinta adalah agar segera dikumpulkan dengan Mas Priyayi dan mempunyai keturunan yang salih dan salihah

Tak pernah bosan saya berdoa, insya Allah

Dan di atas Sawunggalih pagi ini, saya pun mulai menekur, kembali mengulum doa, bahwa semoga di awal tahun depan kami bisa segera berkumpul. Mas Priyayi yang diterima D4 atau saya yang mutasi ke Manado

Semoga setelah itu Allah titipkan mujahid mujahidah untuk kami, allahumma aamiin. Hanya Allah sebaik baik pemberi waris dan semoga Allah tidak membiarkan kami sendiri.

(On this mother’s day: seorang calon ibu ini sedang mengharap akan hadirnya qurrota a’yun :))

Kutipan Hadits:

ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

Tiga waktu diijabahi (dikabulkan) do’a yang tidak diragukan lagi yaitu: (1) do’a orang yang terzholimi, (2) do’a seorang musafir, (3) do’a orang tua pada anaknya.” (HR. Ahmad 12/479 no. 7510, At Tirmidzi 4/314 no. 1905, Ibnu Majah 2/1270 no. 3862. Syaikh Al Albani menghasankan hadits ini)