Tags

, , , , ,

Boneka keluarga muslim

Pertama, sesungguhnya naluri seksual merupakan naluri yang paling kuat dan keras yang selamanya menuntut adanya jalan keluar. Jika jalan keluar tidak dapat memuaskannya, maka banyaklah manusia yang mengalami kegoncangan dan kacau serta menerobos jalan yang jahat. Dan, pernikahan adalah jalan alami dan biologis yang paling baik dan sesuai untuk menyalurkan dan memuaskan naluri seks ini. Dengan menikah, badan menjadi segar, jiwa menjadi tenang, mata terpelihara dari melihat yang haram, dan perasaan tenang menikmati barang yang halal.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya, perempuan itu menghadap dengan rupa setan dan membelakangi dengan rupa setan pula. Jika seseorang diantara kamu tertarik kepada seorang perempuan, hendaklah ia datangi isterinya agar nafsunya dapat tersalurkan.” (HR Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Kedua, menikah merupakan jalan terbaik untuk membuat anak-anak menjadi mulia, memperbanyak keturunan, melestarikan hidup manusia serta memelihara nasab yang oleh Islam sangat diperhatikan sekali.

Rasulullah bersabda, “Nikahilah perempuan pencinta lagi dapat melahirkan anak yang banyak, agar aku dapat membanggakan jumlahmu yang banyak di hadapan para nabi pada hari kiamat nanti.” (HR Ahmad)

Ketiga, naluri kebapakan dan keibuan akan tumbuh saling melengkapi dalam suasana hidup dengan anak-anak. Kemudian akan tumbuh pula perasaan ramah, cinta, dan akur yang merupakan sifat-sifat baik yang menyempurnakan kemanusiaan seseorang.

Keempat, kesadaran atas tanggung jawab terhadap isteri dan anak-anak akan menimbulkan sikap rajin dan sungguh-sungguh dalam memperkuat bakat dan pembawaan seseorang. Ia akan lebih cekatan bekerja karena dorongan tanggung jawab dan kewajibannnya, sehingga ia akan banyak bekerja dan mencari penghasilan yang dapat memperbesar jumlah kekayaan dan memperbanyak produksi. Juga dapat mendorong usaha mengeksploitasi kekayaan alam yang dikaruniakan Allah bagi kepentingan hidup manusia.

Kelima, pembagian tugas, dimana yang satu mengurus dan mengatur urusan rumah tangga, sedangkan yang lain bekerja di luar, sesuai dengan batas-batas tanggung jawab antara suami-isteri dalam menangani tugas-tugasnya.

Perempuan bertugas mengatur dan mengurusi rumah tangga, memelihara dan mendidik anak-anak, serta menciptakan suasana yang sehat untuk suaminya beristirahat guna melepaskan lelah dan memperoleh kesegaran badan kembali. Sementara itu, suami bekerja dan berusaha mendapatkan penghasilan untuk belanja dan keperluan rumah tangga.

Keenam, dengan pernikahan, dapat membuahkan diantaranya tali kekeluargaan, memperteguh kelanggengan rasa cinta antarkeluarga dan memperkuat hubungan kemasyarakatan yang memang oleh Islam direstui, ditopang, dan ditunjang. Karena masyarakat yang saling menunjang lagi saling menyayangi akan menjadi masyarakat yang kuat lagi bahagia.

Ketujuh, Harian Nasional menuliskan bahwa orang yang hidup bersuami-isteri umurnya lebih panjang daripada orang-orang yang tidak bersuami-isteri, baik karena menjanda, bercerai, maupun sengaja membujang. Di berbagai negara, orang-orang menikah pada umur yang masih sangat muda. Walaupun demikian, umur orang-orang yang hidup bersuami-isteri umumnya lebih panjang. Ini adalah pernyataan PBB yang didasarkan kepad ahasil penelitian dan statistik. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa menikah itu bermanfaat untuk kaum laki-laki maupun perempuan sehingga bahaya hamil dan melahirkan semakin berkurang, bahkan tidak lagi merupakan bahaya bagi kehidupan semua bangsa.[1]

Menurut Ustadz Ali Abdul Halim Mahmud, tujuan sistem pernikahan Islam adalah membina sebuah keluarga agar berjalan di bawah naungan cinta kasih dan kesucian diri. Maka rumah tangga yang kelak memiliki keturunan ini akan menemukan jaminan keamanan, ketenteraman, cinta kasih dan kemampuan meningkatkan potensi masyarakat untuk mewujudkan martabat kehidupan manusia yang mulia sebagaimana kemuliaannya di hadapan Allah.[2]

Sedangkan menurut Ustadz Al Maghribi bin As Said Al Maghribi menyebutkan bahwa tujuan pernikahan dalam Islam adalah untuk melestarikan anak manusia, mengikuti sunnah nabi dengan baik, mencari anak dengan tujuan mencari pahala, memelihara kesucian diri dan beribadah kepada Allah, untuk mencetak kader muslim yang tangguh, mencetak kader jihad di jalan Allah, serta mencari kecukupan hidup.[3]

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (An Nur: 32)



[1] Fikih Sunnah

[2] Jalan Dakwah Muslimah

[3] Begini Seharusnya Mendidik Anak