Tags

, ,

nikah

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (Adz Dzariyat: 49)

Allah telah menciptakan segala sesuatu di dunia secara berpasangan. Hewan di dalam bumi, ikan di kedalaman lautan, burung di angkasa, tetumbuhan di hutan dan padang. Yang hidup dan yang mati. Semuanya telah diciptakan pasangannya untuk menciptakan keseimbangan. Demikian pula manusia.

Penciptaan manusia secara berpasangan dan mengikatnya dalam lembaga pernikahan adalah bukti kasih sayang Allah kepada manusia dan agar manusia bersyukur dan mengakui kebesaran Allah. Menikah dengan segala tanggungjawab dan hal-hal yang mengiringinya merupakan sunnatullah atas kehidupan. Para nabi dan rasul sejak masa paling awal hingga penutupnya merupakan orang-orang yang melaksanakan sunnah menikah, kecuali Isa bin Maryam.

Dari Abu Ayyub, Rasulullah bersabda, “Empat perkara yang merupakan sunnah para nabi; celak, wangi-wangian, siwak, dan menikah.” (HR Tirmidzi)

Pernikahan adalah sebuah sarana bagi manusia untuk memperoleh cinta kasih dari makhluk dan Khaliq. Ia akan memberikan cintanya kepada pasangannya. Di sana timbullah rahmah pada keduanya. Maka Allah pun akan memberikan kasih sayang kepada keduanya karena telah menempatkan sesuatu yang haram pada tempatnya dan meletakkan yang halal pada tempatnya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah; pejuang dijalan Allah, mukatib (budak yang memerdekakan dirinya sendiri dari tuannya) yang mau melunasi pembayarannya, dan orang yang menikah karena mau menjauhi yang haram.” (HR Tirmidzi)

Pernikahan adalah berkumpulnya dua orang yang berbeda dalam satu organisasi kecil, dimana masing-masing dari keduanya membawa potensi sesuai diri mereka sendiri. Di dalam pernikahan dua sumber potensi ini menyatu dan memproses potensi itu melalui energi kebersamaan dan cinta. Ketundukan dan iman dalam diri masing-masing pasangan akan saling terpengaruhi. Ketika yang satu turun, maka yang lain akan menaikkannya.

Tsauban berkata, “Ketika turun ayat, ‘Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih,’ (At Taubah: 34), ketika itu kami bersama Rasulullah dalam perjalanan, lalu sebagian shahabat ada yang menyahut, ‘Sudah ada ayat yang turun tentang emas dan perak. Andaikan kami tahu ada yang lain yang lebih baik, tentu akan kami simpan.’ Maka Nabi menyahut, ‘Lisan yang sellau berdzikir, hati yang selalu bersyukur, dan isteri mukminat yang menunjang iman suaminya.’” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dalam pernikahan terdapat keindahan-keindahan dan kenikmatan-kenikmatan duniawi yang pada hakikatnya merupakan kebaikan bagi manusia. Bahkan, Rasulullah adalah seorang yang menikah dan menganjurkan ummatnya menikah. Beliau bahkan mengancam orang yang tidak mau menikah.

Dari Abdullah bin Umar, bahwa Rasulullah bersabda, “Dunia itu laksana perhiasan, dan perhiasan yang terbaik adalah perempuan yang shalihah.” (HR Muslim)

Dari Anas, bahwa beberapa orang sahabat Nabi bertanya secara diam-diam kepada istri-istri Nabi tentang amal ibadah beliau. Lalu di antara mereka ada yang mengatakan, “Aku tidak akan menikah dengan wanita.” Yang lain berkata, “Aku tidak akan memakan daging.” Dan yang lain lagi mengatakan, “Aku tidak akan tidur dengan alas.” Mendengar itu, Nabi memuji Allah dan bersabda, “Apa yang diinginkan orang-orang yang berkata begini, begini! Padahal aku sendiri shalat dan tidur, berpuasa dan berbuka serta menikahi wanita! Barang siapa yang tidak menyukai sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR Muslim)

Pernikahan memiliki banyak dimensi, aqidah, fiqih, sosial, psikologi, tarbiyah, muamalah, budaya, bahkan peradaban. Dengan menikah, seseorang akan lebih terjaga mata dan pikirannya. Mentalnya akan sehat dan fisknya akan bugar.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa diberi rezeki oleh Allah seorang isteri yang shalihah, sesungguhnya telah ditolong separuh agamanya. Hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada separuh lainnya.” (HR Ath Thabrani dan Hakim)

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Seandainya umurku hanya tinggal sepuluh hari lagi, tentu aku akan menikah juga karena takut fitnah.”

Seseorang yang tidak menikah diancam sebagai teman setan, rahib atau pendeta Kristen. Rasulullah bertemu dengan ‘Ukaf bin Wada’ah Al Hilali, seorang pemuda sehat yang belum menikah, tapi sudah berkemampuan.

Rasulullah bersabda, “Kalau begitu engkau termasuk teman setan. Karena mungkin engkau termasuk pendeta Kristen, lantaran itu berarti engkau termasuk golongan mereka. Atau mungkin engkau termasuk golongan kami, lantaran itu hendaklah engkau berbuat seperti yang menjadi kebiasaan kami, karena kebiasaan kami adalah beristeri. Orang yang paling berdosa diantara kalian adalah  yang membujang, dan orang mati paling hina di antara kalian adalah kematian bujangan. Sungguh celaka engkau, wahai ‘Ukaf! Oleh karena itu, menikahlah!” Ukaf menjawab, “Wahai Rasulullah, Aku tidak akan mau menikah sebelum engkau menikahkan aku dengan orang yang engkau sukai.” Rasulullah berkata, “Kalau begitu, dengan nama Allah dan berkahnya, aku nikahkan engkau dengan Kultsum Al Khumairi.” (HR Ibnu Atsir, Ahmad, Abu Ya’la, Ath Thabrani, dan Ibnu Hajar)