Tags

, , ,

images

Semakin kini ternyata saya semakin dapat memahami bahwa kondisi keluarga kecil kami sekarang adalah hampir lumrah di zaman Android ini . Long Distant Marriage (LDM) atau pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh dalam pernikahannya. Misalnya kondisi saya saat ini, istri masih terpaksa bekerja di Jakarta dan suami mempunyai amanah melaksanakan pekerjaannya di pucuk utara Pulau Sulawesi. Benar mulanya bahwa saya belum sama sekali dapat menerima kondisi jauh-jauhan begini setelah menikah. Sering saya sampai terheran-heran kepada orang-orang yang diberi kepercayaan mengurus kepegawaian institusi tempat saya bekerja. Sampai saat ini belum mengizinkan saya untuk pindah kantor ke Sulawesi Utara agar dapat berkumpul dengan suami. Mungkin memang ada alasannya dalam pertimbangan organisasi yang diujudkan dalam beberapa kebijakan.

Alhamdulillah, penantian panjang ini tak mau melewatkan banyak pembelajaran berharga khususnya bagi saya. Ternyata, baru diketahui ada banyak sekali keluarga yang juga sedang, akan, atau pernah melewati masa LDM ini. Ah, memang selalu ada hikmah yang bisa kita teguk dari tiap pembelajaran tersebut. Kira-kira, menurut saya ada beberapa alasan yang menyebabkan sebuah keluarga menempuh bahtera cinta mereka dalam bentangan jarak yang jauh.

Pertama, mungkin sebagian besar alasannya adalah karena pekerjaan dan

kerepotan bereksistensi. Suami dan istri sama sama bekerja dan institusi tidak dapat dengan mudah memfasilitasi perpindahan atau mutasi ke salah satu kota tempat mereka bekerja. Tentunya, jika dikembalikan kepada masing-masing urusan rumah tangga, alasan tersebut dapat berderivat dengan beribu ribu alasan lain yang dipilih oleh tiap-tiap keluarga.

Banyak keluarga yang sebenarnya mempunyai kesempatan untuk dapat berkumpul melainkan faktor memberatkan home base menjadikan mereka memilih berpisah kota. Atau jika keluarga sudah berada dalam tahap yang mapan, misalkan anak-anak sudah berangkat dewasa dengan urusan sekolah masing-masing. Ada banyak rekan-rekan sejawat yang saya temui bahwa istri dan keluarga mereka berada di kota home base dan para bapak menjadi penglaju akhir pekan dari Jakarta atau kota besar lainnya

Bekerja di Jakarta mungkin tidak lantas menjadikan kota metropolitan itu sebagai tempat untuk hidup, justru kehirukpikukannya membuat banyak keluarga lebih baik minggir di sekelilingnya atau tetap bertahan di kota kampung halaman yang menurut mereka lebih nyaman dan damai. Terkadang kota besar memang terasa kejam dan tidak akrab untuk didiami. Jadilah banyak keluarga yang setiap akhir pekan menunggu sang ayah pulang ke rumah.

Faktor kerepotan untuk menyambung keberlangsungan anak-anak dari satu sekolah ke sekolah yang lain apalagi antarkota tidak bisa dianggap remeh, orang tua dewasa mungkin akan lebih memberatkan masa depan sekolah anak-anak dengan tetap ajeg di kota sebelumnya.

Alasan lain yang ada misalnya salah satu pasangan melanjutkan jenjang pendidikannya di luar kota atau negeri, istri atau suaminya tidak dapat menyertai. Maka keluarga ini pun menempuh LDM meski dalam jeda waktu yang sementara. Ada pula sebab karena pekerjaan sang suami yang menuntutnya untuk berada di luar kota menunaikan pekerjaannya juga dalam jangka yang tidak sebentar.

Artinya, adanya LDM ini mungkin menjadi kian wajar di zaman dewasa kini. Saya yang dibesarkan dalam keluarga orang tua yang senantiasa berkumpul pun mulai harus banyak tambah melek dengan kondisi saya dan suami saat ini. Artinya banyak rekan, kerabat, atau saudara yang juga mengalami. Entah itu dalam hitungan bulan bahkan ada yang sampai bilangan belasan tahun.

Satu keyakinan saja yang tidak boleh saya ubah sebagai prinsip untuk memahami kondisi seperti ini, adalah tidak dalam posisi normal sebuah keluarga itu berada dalam kondisi berpencar-pencar, terutama suami dan istri. Keduanya adalah pasangan yang saling membutuhkan sepanjang kehidupannya. Baik itu pengantin baru hingga sampai keduanya menginjak usia senja. Kakek membutuhkan nenek dan nenek membutuhkan kakek.

Potret keluarga yang saya ceritakan di atas, mereka pun sesungguhnya sangat menyayangkan kondisi tersebut. Banyak ayah yang mengeluh kehilangan masa masa emas pertumbuhan buah hati mereka karena hanya bertemu di akhir pekan dalam waktu yang sangat sempit. Banyak pula dampak negatif yang sangat tidak diharapkan adalah adanya perselingkuhan oleh salah satu pasangannya ataupun keduanya. Na’udzubillah.

Dalam setiap doa para ayah pelaju lingkup nusantara ini adalah rapalan munajat supaya dapat berkumpul dengan keluarganya walaupun harus ditebus dengan sesuatu yang berharga. Meski di sisi lain, ada hal yang diperjuangkan untuk kehidupan keluarga yang lebih baik pada masa depan.

‘’Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (QS Al Kahfi: 46)

Masygul dada Amirul Mukminin, Umar bin Khatab, yang saat itu sedang melakoni peran paripurnanya sebagai seorang khalifah kaum muslimin, tengah mendengar rintihan seorang wanita yang sedang amat merindu terhadap suaminya,

malam ini terasa panjang dan gelap gulita

hatiku pilu karena tiada kekasih mendampingi

andaikan bukan karena Allah yang tiada rabb selain-Nya

tentu masih ada kehidupan di atas ranjang ini

aku takut kepada-Nya dan rasa malu menghantui

kan kujaga kehormatan suami, moga dia cepat kembali

Setelah itu, perempuan itu menghela napas dalam-dalam, seraya berkata, “Mestinya apa yang kualami malam ini merupakan masalah yang amat remeh bagi Umar bin Khathab.”

Mendengar kesemua itu, Umar mengetuk pintu rumah perempuan itu.

“Siapa yang mengetuk pintu rumah perempuan yang ditinggal pergi suaminya malam-malam begini?” tanya si perempuan enggan membuka pintu.

“Bukakan pintu!” kata Umar.

Perempuan itu menolak. Ia memperingatkan laki-laki yang berkali-kali minta dibukakan  pintu rumahnya itu. “Demi Allah, jika Amirul Mukminin mengetahui tindakanmu ini, tentu dia akan menghukumu!”

Setelah tahu kehormatan yang dijaga perempuan itu, Umar berkata, “Aku adalah Amirul Mukminin.”

“Engkau pembohong! Engkau bukan Amirul Mukminin!”

Umar bin Khathab mengeraskan dan memperjalas suaranya, sehingga akhirnya perempuan itu tahu bahwa memang dia adalah Umar bin Khathab. Pintu rumah pun dibukanya.

“Apa yang engkau katakan tadi?” tanya Umar.

Perempuan itu mengulangi lagi apa yang dia katakan.

“Mana suamimu?”

“Ikut bergabung dalam pasukan perang ini dan ini,” jawabnya.

Lalu Umar bin Khathab mengirim kurir agar suami si perempuan itu pulang dari medan perang. Setelah benar-benar kembali, Umar berkata kepadanya, “Temuilah isterimu!”

Betapa rindunya kita akan kebijaksanaan Amirul Mu’minin Umar bin Khatab terhadap rakyatnya seperti penggalan kisah di atas. Juga tentu rindu pula pada kebaikan hati Khalifah Abdul Malik bin Marwan di Damaskus. Saat itu, Abdul Malik bin Marwan mengirimkan pasukan ke Yaman dalam rangka jihad, ternyata pasukan tersebut memerlukan waktu yang lama hingga menetap di sana dalam jangka beberapa tahun. Di Damaskus, Abdul Malik berkeinginan untuk menyusuri opini rakyat.

“Demi Allah, malam ini aku akan menelusuri kota Damaskus untuk mendengar apa komentar orang-orang mengenai pasukan yang kukirim untuk berperang, yang terdiri dari kaum laki-laki, hingga harta mereka menjadi melimpah.”

Abdul Malik pun menelusuri lorong-lorong kota Damaskus. Persis seperti apa yang dilakukan oleh Umar bin Khathab beberapa tahun sebelumnya saat menelusuri kota Madinah. Abdul Malik mendengar seorang perempuan yang sedang mendirikan shalat. Ia pun mencuri dengar.

Tatkala si perempuan itu beranjak ke tempat tidurnya, ia berkata, “Ya Allah yang telah menjalankan unta-unta yang cantik, menurunkan kitab-kitab, dan menganugerahkan keinginan, aku memohon kepada-Mu untuk mengembalikan suami yang saat ini tidak ada di sampingku, sehingga aku bisa menguak hasratku dan aku menjadi senang karenanya.”

“Aku memohon kepada-Mu agar Engkau menetapkan keputusan antara diriku dan Abdul Malik bin Marwan yang telah memisahkan kami,” pintanya.

Berbeda dengan Umar bin Khathab yang bersikap relatif keras, Abdul Malik bin Marwan di Damaskus lebih halus menyikapi persoalan ini. Ia bertanya pada pengawalnya, “Tahukah kamu, rumah siapakah ini?”

“Iya, saya tahu. Ini adalah rumah Yazid bin Sinan,” jawabnya.

“Siapa perempuan yang berada di dalamnya?”

“Isterinya.”

Esok paginya, Abdul Malik bertanya pada orang-orang, “Berapa lama seorang perempuan bisa bersabar berpisah dengan suaminya?”

“Enam bulan,” kata mereka.

Hafshah saat ditanya oleh ayahnya, Umar bin Khathab, mengatakan, “Bisa sebulan, dua bulan, atau tiga bulan. Setelah empat bulan, dia tidak mampu lagi bersabar.”

Semoga Allah memberikan kesadaran kepada pemimpin kita untuk berlaku adil dan berkasih sayang seperti Umar dan Abdul Malik.

(Kisah di atas disadur dari Azalea, PKJ, 2011)

Bilamana realitas kita saat ini berhadapan dengan banyak benturan yang masih mengharuskan untuk menjalani LDM ini, maka mari sebaiknya kita yang lebih menjaga diri. Terlebih untuk kaum perempuan. Bukan berarti yang kaum Hawa yang gadis dan berada di sisi suami tidak perlu menjaga diri, melainkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa sallam pun telah berpesan khusus pada para istri yang jauh dari sang suami,

“Dari Abi Umamah, bahwa Nabi bersabda, “Bagi seorang mukmin, sesudah bertakwa kepada Allah, tidak ada hal lain yang lebih baik, selain isteri yang shalihah, yaitu apabila diperintahkan ia taat, apabila dilihat menyenangkan, apabila ditinggal pergi, dijaga dirinya dan harta suaminya dengan baik.” (HR Ibnu Majah)

Menjaga diri bagi seorang perempuan mempunyai makna yang sangat dalam, seperti menjaga penampilannya di muka umum agar tidak mengundang perhatian laki-laki bukan mahramnya. Apabila wanita ini bekerja, saya pribadi berpendapat sebaiknya para wanita tidak perlu memulas wajahnya berlebihan. Apalagi tidak ada suami di sisi, jadi untuk apa pula kita berdandan. Cukup rapi dan tidak tampak sakit atau pucat yang bisa kita hadirkan dari aura hati yang ikhlas.

Dengan menjaga diri dan waspada lebih tinggi artinya kita juga berusaha mengurangi kriminalitas yang dapat terjadi atas harta kita yang tentu sebagiannya berasal dari suami. Menjaga diri pula dalam pergaulan dan interaksi kita dengan berbagai pihak. Syaitan pun dapat menggoda kita dengan cara sangat halus, misalkan perempuan dibuat nyaman dengan perhatian laki-laki lain di lingkungan kerjanya,  atau didatangkan rasa asyik saat mengobrol dengan rekan laki-laki sejawat.

Fitrah manusiawi bagi seorang perempuan akan hadirnya perhatian, namun sayangnya bukan hadir dari sang suami yang tidak bisa menemaninya dalam keseharian. Itulah mengapa, kita sekali lagi harus lebih-lebih menjaga diri karena saat kita lengah bukan hanya diri seorang perempuan itu saja melainkan kehormatan suaminya pula yang dapat rusak. Astaghfirullah…