Enak dan Enak Banget

Sampai sekarang, saya masih bingung mendefinisikan preferensi selera Mas Priyayi Muslim. Mula-mula, saya menganggap dia adalah orang yang gampangan, Mau dimasakin apa saja tidak masalah. Tidak pilih pilih menu yang mau dan bisa dimakan. Tetapi, lama-lama takjub juga karena beliau lebih peka soal rasa dan bumbu daripada saya. Kalau saya masak sendiri, tahu saja hasilnya kurang ini, kelebihan itu. Apalagi kalau lagi iseng kulineran di luar rumah, langsung bisa saja gitu memberi komentar soal rasanya. Hmmm.

Karena sedari kecil telah dididik oleh ibunda yang selalu memberikan saya doktrin positif, “Apa saja, asal sudah masuk wajan, hasilnya tetap enak!”, maka prinsip itu tetap saya pegang sampai sekarang dan mempraktikkannya sehari-hari untuk suami. Apalagi masih di usia-usia newly wed begini (hah? newly? :P), seringnya saya termotivasi untuk mencoba resep-resep baru. Niatnya tentu saja untuk menyenangkan Mas Priyayi. Selain itu, untuk ganti-ganti menu juga supaya lebih variatif.

Sebenarnya tidak banyak juga resep yang sudah saya coba, tapi lumayan lah sudah meliputi berbagai olahan, mulai daging sapi dibuat macam-macam, ikan darat dan laut, pasta dan mie, roti dan kue kukusan, ayam, tumisan, kuah santan, dll, dan insya Allah semua diolah memakai resep ala homemade. Berbekal prinsip tadi, saya pede saja begitu mau masak macam-macam, apalagi saya merasa mempunyai tangan dengan kekuatan ajaib. Maksudnya? Hehe, meskipun saya sebelumnya tidak rutin memasak sendiri tapi saya yakin sekali bahwa kalau saya masak pasti hasilnya enak.๐Ÿ˜€ Mungkin, lagi-lagi efek doktrin dari ibunda, saya jadi mempunyai prinsip satu lagi soal makanan, yaitu makanan itu hanya ada dua: enak dan enak banget.

Hari demi hari berlalu, hingga suatu saat Mas Priyayi Muslim meminta saya dengan jujur, “Besok lagi, masak sop saja, setiap hari sop juga tidak apa-apa!” Hah? Maksudnya bagaimana ini? Saya yang sudah mulai terbiasa memasak berbagai macam masakan kok sekarang diminta masak sop saja? Apa artinya setelah sekian lama, akhirnya Mas Priyayi Muslim mengatakan yang sejujurnya? Tapi dulu beliau bilang masakan saya enak bahkan ada yang enak banget lho.

Jadi, apa arti dari semua ini? Hufh….

Mas Priyayi memang pada dasarnya karena sayang sama saya dan beliau inginnya tidak menyusahkan saya yang pada akhirnya sering kebingungan masak apa. Hehehe. Apalagi menyiapkan bahan-bahannya, apalagi kalau masaknya perlu waktu yang cukup lama, seperti rendang atau ayam betutu. Beliau bilang lebih menikmati masakan-masakan yang biasa saja alias tidak perlu masak makanan yang berbumbu komplit.

Nah! Bingung kan jadinya? Sebenarnya Mas Priyayi ini orangnya gampangan atau malah susahan ya?๐Ÿ˜€ Baiklah, saya akhirnya menyesuaikan saja. Kalau dulu, belanja mingguan paling tidak ada empat macam sayuran yang berbeda, sekarang mah lebih gampang. Saya hanya membeli bahan bahan sop saja, macam wortel, seledri, daun bawang, brokoli, bunga kol, sawi putih, sawi hijau, jagung manis, tetelan ayam atau sapi, bakso, sosis, kentang, makaroni, dan kubis. Jadi, menu hari senin biasanya sop wortel+kentang+brokoli, hari selasa: sop wortel+ayam+bunga kol, rabu: sop wortel: sawi putih+sawi hijau, makaroni, hari kamis: sisanya yang belum diolah, hari jumat dst variasinya dibolak-balik aja. Hahaha.

Jadi gimana? Ternyata gampang juga ya jadi saya, pokoknya mah tinggal sedia bahan sop dan setiap hari masaknya ya sop saja. Ehm, enggak setiap hari juga sih sebenarnya. Hehehe๐Ÿ˜›

Okelah, keep learning to be great wife! ^^

Istri D*rh*k*

Kalau tidak salah ingat, pertama kali saya buat blog dan beneran nulis itu sekitar tahun 2007. Saat itu, mengekor saja pada kakak-kakak tingkat yang sudah duluan eksis di laman Multiply. Hingga sampai sekitar tahun 2012, ketika Multiply merencanakan untuk menutup jurnal blognya selamanya, ternyata jumlah postingan saya lumayan juga,๐Ÿ˜€. Tapi, mungkin tidak semua isinya sarat makna dan penuh hikmah. Kebanyakan sekadar coretan curahan hati.

Sampai akhirnya akun saya juga ikutan nangkring di laman wordpress ini karena resmi digusur oleh Multiply. Mentas dari dunia kampus sampai sekarang, ternyata perkembangan dunia blog makin mengganas. Hehehe. Tapi, sayangnya tidak diimbangi dengan langkah keeksisan saya yang justru makin memudar. *halah

Di media sosial seperti Facebook pun, banyak sekali bertaburan grup-grup penulisan, grup-grup blogger, sampai ada komunitas yang menamakan emak-emak blogger, dll. Saya tercatat masuk sebagai anggotanya. Namun lagi-lagi bakat eksis saya belum bisa tercurahkan juga.

Keberadaan komunitas semacam emak blogger, blogger married, blogger profesional, traveller blogger memang suatu keniscayaan. Zaman seperti dewasa ini memang sangat memungkinkan kita untuk mempunyai suatu ruang jelajah pribadi sebagai bentuk ekspresi diri. Bahkan orang membuat blog dan menuliskan apapun disana juga macam-macam niat dan tujuannya. Tiap-tiap blogger mempunyai maksud dan gayanya masing-masing dalam menulis jurnalnya.

Bagi saya pribadi, blog ini adalah sebagai suatu sarana juga untuk menuliskan apa-apa yang memang mau ditulis (alasan apah inih). Pengennya sih, apa yang saya tulis juga bisa bermanfaat bagi yang kebetulan mampir membacanya. Lalu tipe blogger macam apakah saya ini?

Hehe, sebetulnya saya sendiri juga ragu, pantaskah saya juga disebut blogger? Ya alasannya karena pasti saya bukan orang yang punya komitmen tinggi untuk selalu rutin menulis minimal sepekan sekali. Ketahuan kan yah? bulan Oktober lalu saja tidak ada sama sekali entry jurnal nya kan? Nah Lhoo! ^^

Oya, setiap orang juga punya style masing-masing dalam menulis, apa yang ditulis, dan kecenderungan tema-tema yang ditulis. Dan, dengan makin maraknya dunia blogging ini jadi makin variatif blog-blog orang. Sepertinya saya harus mengaku, bahwa saya adalah tipe blogger yang memang suka blogwalking tapi bener-bener silent reader. Sekalipun saya tidak pernah menampakkan jati diri saya dan ikutan berkomentar dalam beberapa blog yang sering saya kunjungi. Alasannya yang paling logis ya itu tadi, saya enggak kuat buat eksis,๐Ÿ˜€. Mungkin hanya benar-benar blog teman dan saudari yang saya ikutan komentar untuk tetap menjaga silaturahmi.

Blogwalking bagi sebagian blogger adalah keharusan (katanya), apalagi yang sudah masuk ke komunitas. Istilahnya buat saling berkunjung dan apresiasi begitu. Ada juga yang biasa-biasa saja, ada juga yang malas, dan ada juga yang anti blogwalking. Sekali lagi, suka-suka orang lah yah mau ngapain di dunia maya, asalkan tetap bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Semakin hari saya juga semakin suka blogwalking, apalagi ke blog-blog orang yang secara natural bahasanya enak sekali untuk dibaca. Ringan, sederhana, apalagi bisa lucu gitu. Saya benar-benar amazing! Karena saya sendiri sedari dulu mempunyai kelemahan dalam menulis: yaitu banyak bunga-bunga, terkesan serius, dan tidak efektif. Itulah, akhir-akhir ini saya juga latihan nulis yang gurih, crunchy, dan renyah begitu. Bagaimanapun, sebagai blogger amatiran begini saya masih punya cita-cita dan tekad kuat untuk bikin buku. Bukan sama sekali ingin mengubah style dan gaya menulis saya yang sudah dari sononya begitu, tapi kalau memang menjadikan karya-karya saya nantinya lebih mudah ditangkap, dicerna, dan dimaknai oleh pembaca, meskipun menyampaikan tema yang serius dan itu baik ya enggak apa-apa lah saya latihan. Apalagi kalau mas Priyayi Muslim juga sudah sering sekali mengingatkan saya kalau tulisan saya tidak enak dibaca. Hufh! Jleb! OKE!

Blogwalking yang saya lakukan benar-benar bertujuan untuk menghibur saya. Membaca kisah sehari-hari orang-orang di dalamnya, mengenal satu persatu kebiasaannya, anggota keluarganya, aktivitasnya, suka dukanya, dan perubahannya membuat jati diri saya juga semakin humanis. Walaupun tidak dipungkiri, terkadang coretan mereka juga ada yang mengganggu saya secara pribadi. Mungkin itu hanya perasaan yang timbul pada hati seorang manusia biasa yang lemah. Seperti menimbulkan iri, cemburu, sebel, dsb. Tapi, sebisa mungkin saya manaje lagi karena tentu saja bukan salah mereka menuliskan kisah-kisahnya. Salah saya juga yang masih mengikuti blognya. Hahaha.๐Ÿ˜€

Tulisan-tulisan saya pun, tidak mungkin lepas juga sebagai sumber konflik batin dalam diri pembaca. Saya mohon maaf setulusnya yah kalau ada hal-hal yang membuat tidak berkenan. ^^

Oke, pada akhirnya saya harus menejelaskan maksud dari tulisan sepanjang ini (jadi sebelumnya hanya pengantar yah, hehehe). Baiklah, sekali lagi saya benar-benar tidak ingin mengganggu kebebasan semua blogger dalam mengekspresikan diri dalam tulisannya. Saya juga sebenarnya bisa mengabaikan saja. Namun, ada kalanya saya merasa sedih sendiri dan merutuki diri sendiri. Ada beberapa postingan dari beberapa blog saat mereka bercerita tentang kehidupan rumah tangga dan keluarganya, ada semacam kata keterangan seperti di atas atau sejenisnya ->> Istri D*rh*k*

Saya sedih, kalau bisa berkomentar dan mengirim pesan kepada ybs, tapi apa daya, saya akui saya benar-benar sungkan untuk ikut berkomentar. Menulis dua kata itu atau semacamnya, saya yakin dari hati yang paling dalam si penulis hanya sekadar bercanda. Gurauan untuk menguatkan isi tulisan. Atau kata-kata sebagai keterangan menambah jelasnya situasi. Namun, menurut saya, marilah kita jangan menulis seperti itu lagi. Apa kata suami kalau dia membacanya? Mungkin suami juga tahu itu hanya sekadar kelakar yang tak perlu dibesar-besarkan.

Tapi, apa yang kita tulis, di dunia maya seperti ini akan dibaca banyak orang. Lebih lama juga dalam menyimpan memori. Terlebih, apalagi kalau sampai bercandaan semacam ini menjadi semacam kata-kata ajaib yang mungkin suatu kala dapat dikabulkan oleh Yang Maha Mengabulkan. Na’udzubillah min dzalik. Apalagi, sampai menyandang suatu kata-kata yang maksudnya sekadar gurauan tersebut tapi besar sekali sebenarnya maknanya. Istri durhaka! Suatu keadaan yang benar-benar harus kita jauhi dan camkan baik-baik bagi sesiapapun wanita untuk jangan sampai menjadi istri durhaka. Istri yang banyak ngomel saja mungkin sudah sangat menyusahkan suami. Apalagi menjadi istri durhaka baginya.

Masih mendingan kita menulis *istri shalihah, dsb. Karena ini memberi semacam stimulasi dan bisa menjadi doa juga agar kita senantiasa berupaya dalam meningkatkan kualitas status keistrian kita. Karena, sedikit saja ridho suami bagi kita, adalah selangkah pintu surga makin terbuka untuk kita masuki. Marilah kita berlomba-lomba untuk seluas-luasnya membuka pintu surga melalui ridho suami masing-masing yang sebesar-besarnmya.

Okey, Moms! Keep Blogging, yeah! Bagaimanapun saya tetap blogwalking padamu ^^

Status

Kun Fayakun

Tags

, ,

HADITS ke-19

Kitab Arbain An Nawawiyah

ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุจููŠ ุงู„ู’ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุนูŽุจู’ุฏู ุงู„ู„ู‡ู ุจู’ู†ู ุนูŽุจู‘ูŽุงุณู ุฑูŽุถููŠูŽ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ : ูƒูู†ู’ุชู ุฎูŽู„ู’ููŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูŠูŽูˆู’ู…ุงู‹ุŒ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ : ูŠูŽุง ุบูู„ุงูŽู…ู ุฅูู†ู‘ููŠ ุฃูุนูŽู„ู‘ูู…ููƒูŽ ูƒูŽู„ูู…ูŽุงุชู: ุงู’ุญู’ููŽุธู ุงู„ู„ู‡ูŽ ูŠูŽุญู’ููŽุธู’ูƒูŽุŒ ุงุญู’ููŽุธู ุงู„ู„ู‡ูŽ ุชูŽุฌูุฏู’ู‡ู ุชูุฌูŽุงู‡ูŽูƒูŽุŒ ุฅูุฐูŽุง ุณูŽุฃูŽู„ู’ุชูŽ ููŽุงุณู’ุฃูŽู„ู ุงู„ู„ู‡ูŽ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุงุณู’ุชูŽุนูŽู†ู’ุชูŽ ููŽุงุณู’ุชูŽุนูู†ู’ ุจูุงู„ู„ู‡ูุŒ ูˆูŽุงุนู’ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู’ู„ุฃูู…ู‘ูŽุฉูŽ ู„ูŽูˆู’ ุงุฌู’ุชูŽู…ูŽุนูŽุชู’ ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ย  ูŠูŽู†ู’ููŽุนููˆู’ูƒูŽ ุจูุดูŽูŠู’ุกู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽู†ู’ููŽุนููˆู’ูƒูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุจูุดูŽูŠู’ุกู ู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุชูŽุจูŽู‡ู ุงู„ู„ู‡ู ู„ูŽูƒูŽุŒ ูˆูŽุฅูู†ู ุงุฌู’ุชูŽู…ูŽุนููˆุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุถูุฑู‘ููˆู’ูƒูŽ ุจูุดูŽูŠู’ุกู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุถูุฑู‘ููˆู’ูƒูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุจูุดูŽูŠู’ุกู ู‚ูŽุฏู’ ูƒูŽุชูŽุจูŽู‡ู ุงู„ู„ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒูŽุŒ ุฑูููุนูŽุชู ุงู’ู„ุฃูŽู‚ู’ู„ุงูŽู…ู ูˆูŽุฌูŽูู‘ูŽุชู ุงู„ุตู‘ูุญููู

[ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ ูˆู‚ุงู„ : ุญุฏูŠุซ ุญุณู† ุตุญูŠุญ ูˆููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ ุบูŠุฑ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ: ุงุญู’ููŽุธู ุงู„ู„ู‡ูŽ ุชูŽุฌูุฏู’ู‡ู ุฃูŽู…ูŽุงู…ูŽูƒูŽุŒ ุชูŽุนูŽุฑู‘ูŽูู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู„ู‡ู ูููŠ ุงู„ุฑู‘ูŽุฎูŽุงุกู ูŠูŽุนู’ุฑููู’ูƒูŽ ูููŠ ุงู„ุดู‘ูุฏู‘ูŽุฉูุŒ ูˆูŽุงุนู’ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูŽุง ุฃูŽุฎู’ุทูŽุฃูŽูƒูŽ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ู„ููŠูุตููŠู’ุจูŽูƒูŽุŒ ูˆูŽู…ูŽุง ุฃูŽุตูŽุงุจูŽูƒูŽ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ู„ููŠูุฎู’ุทูุฆูŽูƒูŽุŒ ูˆูŽุงุนู’ู„ูŽู…ู’ ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽุตู’ุฑูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ุตู‘ูŽุจู’ุฑูุŒ ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ููŽุฑูŽุฌูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ูƒูŽุฑู’ุจู ูˆูŽุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูŽุนูŽ ุงู„ู’ุนูุณู’ุฑู ูŠูุณู’ุฑุงู‹].

Terjemah hadits / ุชุฑุฌู…ุฉ ุงู„ุญุฏูŠุซ :

Dari Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahuanhuma, beliau berkata : Suatu saat saya berada dibelakang nabi shollallohu โ€˜alaihi wa sallam, maka beliau bersabda : Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Allah, niscaya dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu , niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.

(Riwayat Turmuzi dan dia berkata : Haditsnya hasan shahih). Dalam sebuah riwayat selain Turmuzi dikatakan : Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapatkan-Nya didepanmu. Kenalilah Allah di waktu senggang niscaya Dia akan mengenalmu di waktu susah. Ketahuilah bahwa apa yang ditetapkan luput darimu tidaklah akan menimpamu dan apa yangย  ditetapkan akan menimpamu tidak akan luput darimu, ketahuilah bahwa kemenangan bersama kesabaran dan kemudahan bersama kesulitan dan kesulitan bersama kemudahan).

(sumber teks)

Status

“Persis sejak hari itu, aku mulai menyadari bahwa hidupku akan berubah.”

“Persis sejak hari itu, aku mulai menyadari bahwa hidupku akan berubah.”

Teringat suatu hari di tengah siang bolong, saat aku masih berkutat dengan prosesi penyambutan mahasiswa baru kampus kami, tetiba ada kabar sangat mendadak bahwa engkau berniat menikahiku.

Tak ada hujan, hanya angin dan terik matahari yang sangat menyengat, kemudian aku dengan polos bertanya mengapa harus diri ini yang ternyata menjadi calon istrimu. Bukankah ada banyak perempuan lain yang lebih baik, lebih cantik, dan lebih serasi denganmu?

Hari ke hari, menjadi semakin nyata dan menyadari hidupku benar-benar mulai berubah.

Hingga sampai hari ini,

kadang perubahan itu membuatku menjadi ‘gila’ karena tak lekas beradaptasi dengan semua prinsip, sikap, tingkah, dan lakumu. Hingga hari ini, selalu merasa belum genap mengenalmu.

kadang perubahan itu membuat saya sangat bersedih. Tak sedikit air mata yang terkuras. Bukan karena engkau sebenarnya, melainkan karena semata diri ini yang mempunyai simpanan air mata yang sangat banyak.

kadang perubahan itu membuat saya linglung, bingung, dan murung. Harus bagaimana lagi saya bersikap agar selalu membuat mu bahagia.

Namun, sejak hari itu juga, setelah menyadari bahwa hidupku akan berubah dan memang benarlah hidupku telah berubah. Menjalani proses pra pernikahan yang pertama, dan satu-satunya (insya Allah) bersamamu, membuat diri ini dituntut lebih banyak belajar. Lebih banyak insyaf, bukan hanya soal cari ilmu, tapi jauh lebih besar, mengamalkan ilmu.

Beginilah akidah telah menuntunku, beginilah tarbiyah selalu memelukku, dan akhirnyaย  mengantarkan ku untuk utuh menerima pinanganmu setelah proses yang panjang. Allah Yaa Lathif, Rabbku yang berkenan…

Hingga sampai hari ini,

Justru, sangat sering perubahan itu membuatku merasa menjadi orang yang paling bahagia dan terharu di dunia ini. Bukan karena engkau yang selalu berusaha tampil menjadi suamiย  paripurna, melainkan karena engkau yang karena Allah sangat tulus mencintaiku, menghormatiku, dan bahkan mendoakanku. Sampai suatu malam, kudengar engkau berbisik di telingaku “Semoga Allah meridhoimu, istriku.” Hanya seukir senyum yang mampu kubalas untuk menyembunyikan air mata yang sudah tumpah ruah di dalam hati.

Allah, Yaa Lathif,

Aku memang lebih banyak menangis setelah siang hari yang panas itu hingga sampai hari ini menjalani pernikahan. Bukan hanya karena air mata sedih, marah, kecewa, atau mengeluh, melainkan karena air mata yang kuharapkan setiap tetesannya di pipi menjadi saksi bahwa aku senantiasa ikhtiar untuk bersyukur sekaligus bersabar bersamamu merangkak, berjalan, dan berlari menggapai jannah dan ridho-Nya. aamiin…

Terimakasih buat engkau yang semalam sangat khawatir menunggu kepulanganku ke rumah. Karena tak biasa aku tak ada di rumah saat kau pulang.

Terima kasih buat engkau yang semalam menelepon teman-teman kantorku karena tak kunjung mendapat kabar dariku.

Terima kasih buat engkau yang semalam masih mematung di depan pagar dalam kondisi gelap gulita hanya karena menungguku.

Hamdan wa syukron Lillah!

Aku, istrimu yang sangat berterima kasih.

(Manado, 10 September 2014)

 

Satu Mulut

Tags

, , , , , , ,

Telah jamak pada kehidupan bumi ini, bahwa ada tiga godaan terbesar dunia bagi seorang laki-laki. Yakni: harta, tahta, dan wanita. Tapi bagi seorang perempuan godaannya cukup satu, tapi satu ini justru dapat menjadikannya perempuan yang malang di dunia maupun di akhirat. Yakni: mulut.

Dengan mulut, sesama perempuan bisa saling memfitnah. Dengan mulut, sebagian perempuan melupakan bersukur, sebagian lain melebihkan keluh kesahnya.

Dengan mulut, sesama perempuan saling menyulut iri, hasad, dan dengki. Dengan mulut, sesama perempuan dengan mudahnya mengumbar nikmat, tapi bagi sebagian lain justru mengingatkan akan luka hatinya yang semakin menganga.

Dengan mulut, seorang perempuan merasa semakin menikmati penderitaannya. Dengan mulut, semakin besar dia merasa semakin terpojok dan merasa menjadi pihak yang paling terkorban.

Maka, dengan mulutnya sendiri, seorang istri bisa merasakan kesedihan yang paling membuatnya menderita di dalam rumah tangganya. Mungkin bukan karena kepedihan akibat pengkhiantan cinta sang suami. Bukan karena suaminya nyata-nyata berselingkuh dengan perempuan lain. Tapi, saat yang paling menderita bagi seorang istri, yakni pada saat dia dengan sangat sadar atau tidak sadar menyakiti hati suaminya.

Maka, dengan mulutnya yang mempunyai lidah tak bertulang, seorang istri harus bisa melompati dari satu titik ujian ke titik ujian lainnya. Atau malah, mulutnya itulah yang menjadi ujian terbesar bagi seorang istri.

Tak jarang, dalam kehidupan rumah tangga antara suami dan istri pasti ada saja hal-hal yang bersinggungan, yang mana saat hati keduanya dalam kondisi kurang lapang justru dapat menjadi pemicu persitegangan. Apapun itu, meski hal-hal yang sepele. Hal ini, sejatinya dapat dimaklumi. Namanya rumah tangga, isinya minimal dua individu berbeda, yang satu datang dari satu keluarga sedangkan yang lain besar dari keluarga yang lain. Dan seorang istri, seorang perempuan yang diciptakan teramat mudah berkata-kata bahkan cenderung lebih banyak bicara daripada laki-laki, mejaga lisan adalahย  ujian tersendiri baginya.

Terkadang kita lupa daratan, segala yang tidak sejalan dengan hati, menjadikan kita lebih banyak bicara terhadap suami, Bahkan semakin banyak bicara, semakin terasa penderitaannya membuat mata dan hati kita tertutup bahwa suami yang entah suka atau tidak suka mendengarnya, ada goresan hati yang terluka. Mungkin, baginya, ia sakit hati bukan hanya karena harga dirinya sebagai seorang kepala keluarga sedang dikuliti istri sendiri, tapi juga minimal ia sakit hati mengapa sampai hati istrinya ini terlalu banyak bicara.

Allahu a’lam, pepatah bijak mengatakan luka di kulit kasat mata, tapi luka di hati, siapa yang mengira.

Maka shahih baginda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, yang bertutur,

โ€œIstri-istri kalian akan menjadi penghuni surga yang sangat mencintai, yang jika dia disakiti dan menyakiti maka dia segera datang kepada suaminya, dia letakkan tangannya di atas telapak tangan suaminya, seraya berucap, โ€œSaya tidak dapat tidur sampai engkau meridhaiku.โ€

(HR. Thabrani).

Sungguh, benarlah penderitaan besar bagi seorang istri adalah bila ia sampai menyakiti hati suaminya. Dengan mulutnya yang hanya satu tapi dapat menjadi ujian terbesar bagi dirinya bila sering tak dijaga. Dengan mulutnya yang tak pandai berkicau dan sering lebih banyak bicara seharusnya seorang istri lebih memilih tidak tidur hingga sang suami meridhoinya kembali.

Dilema Hidup Sehari-hari

Namanya Dewi. Usianya sudah tidak lagi muda, kira kira sebaya dengan tante saya, 40 tahunan. Anak pertamanya, seorang bujang, yang usianya lebih tua dari adik saya, sekitar 22 tahun. Namanya menjadi tidak asing lagi bagi kami setelah suatu malam Ibu memancing pertanyaan terkait dengannya. Mumpung ada saudara-saudara lain yang sedang berkumpul lebaran kali ini.

Mulanya, Ibu bertanya tentang solusi bagaimana menagih uang kos yang sudah menunggak enam bulan tidak dibayar si Mbak Dewi ini. Kalau masih hitungan satu dua bulan, Ibu memang tidak terlalu memaksakannya. Tapi ini sudah hampir setengah tahun mbak Dewi dan anaknya, Yudi, menyewa dua buah kamar dengan menggunakan semua fasilitas di rumah Mbah kami tapi tanpa biaya sepeser pun.

Om dan tante, tentu saja mengusulkan agar Ibu dapat lebih tegas dan galak. Kalau sudah enam bulan begini jika makin dibiarkan lama-lama pasti akan memberatkan kedua belah pihak. Ibu bilang, juga sudah sangat mendesak mbak Dewi. Hampir setiap bulan Ibu rajin mengingatkan kewajiban mbak Dewi dan anaknya. Malahan yang terakhir, Ibu hanya mendapat jawaban yang sama sekali tidak bersolusi. “Ibu yang sabar ya, ini juga lagi dicarikan tapi memang belum dapat. Ibu ambil saja barang-barang saya.”

Pikir-pikir, apa juga yang mau diambil, batin Ibu.

Bapak dan Ibu, bagaimanapun adalah termasuk orang-orang yang sangat baik hati. Mungkin, Bapak dan Ibu, tidaklah sama dengan ibu atau bapak kos Mbak Dewi yang sebelum-sebelumnya. Sudah enam bulan begini, pakai air, listrik, kasur, tempat dengan akad sewa bulanan tapi belum dibayar juga. Kalau yang lain mungkin saja sudah tidak ampun lagi.

Saya yang bukan termasuk tetua di sini gatel ikut nyeletuk, “Mau enggak mau mungkin harus lebih dikerasi”. Ibu sama sekali tidak menggubris saran saya atau saran Om yang memang bernada memaksa. Ibu dan Bapak biasanya akan mengambil jalan “pemanggilan” kepada yang bersangkutan. Bukan diusir semena-mena.

Ibu lama-lama gerah juga mendengarkan kami yang sarannya seperti memojokkan, sampai akhirnya ibu pun cerita dan terungkaplah yang mana membuat ibu berkali-kali bilang tidak tega pasal Mbak Dewi ini. Baru saja dua bulan yang lalu, sekitar awal bulan Juni sebelum puasa ini, Mbak Dewi baru operasi.

Siang itu, sesaat sebelum pingsan, Mbak Dewi masih sempat menelepon Ibu yang masih di sekolah. “Ibu, saya sudah tidak kuat,” katanya. Pas ibu sudah pulang dan membuka kamar mbak Dewi mendapati mbak Dewi memang sudah pingsan. Ibu panik dan memanggil anak kos lain yang profesinya perawat. Kata mba perawat itu, kondisi mbak Dewi sudah dehidrasi dan harus dirujuk ke RS.

Jadilah mbak Dewi dengan diantar anak bujangnya, Yudi, menggunakan taksi ke RS terdekat. Tidak lupa Ibu menitipkan selembar uang seratus ribu karena Ibu yakin si Yudi ini pasti tidak ada uang. Tak lama, Yudi malah pulang ke rumah dengan jalan kaki. Dia merengek dengan melasnya, “Ibu, tolongin ibu saya lagi kritis.”

Bapak dan Ibu pun menyusul ke RS Wijayakusuma dan langsung bertemu dengan pihak RS. Mereka sampaikan bahwa janin yang dikandung Mbak Dewi sudah tidak hidup. Janin usia 7 bulanan itu harus dikeluarkan karena bisa membahayakan ibunya. Tapi RS ini tidak bisa menangani tindakan dan harus dirujuk ke RS yang lebih besar atau RS Kabupaten. Maka mbak Dewi pun segera dilarikan ke RS Kabupaten Banyumas dengan menyewa ambulans yang dibayar oleh Ibu, tiga ratus ribu rupiah.

Singkat cerita, operasinya lancar. Janin pun sudah bisa dikeluarkan dan mbak Dewi sendiri selamat. Bapakย  juga terus menerus menghubungi suami mbak Dewi yang menikahinya secara sirri. Tapi si juragan beras asal kabupaten sebelah malah tidak acuh sama sekali. Telepon dan sms Bapak tidak ada balasan. Bahkan Bapak sudah mengancamnya lewat sms karena membiarkan istri sirrinya itu sekarat tanpa tanggung jawab apapun. Sampai saat malam Ibu bercerita ini suami mbak Dewi belum menjawab telepon dan sms Bapak.

Karena mbak Dewi ini anak kos saja di desa kami, maka diputuskan agar tidak merepotkan banyak pihak, jasad janin mbak Dewi dikuburkan di RS. Tapi yang belum selesai adalah biaya operasi sesar plus biaya lain-lain di RS yang bisa habis sekitar minimal 7 juta. Apalagi suami mbak Dewi ini malah kabur dan tidak tanggung jawab. Bapak dan Ibu akhirnya menyerah juga dan kewalahan kalau lagi-lagi harus menutup dulu semua biaya RS tersebut.

Solusi yang paling mungkin adalah sesegera mungkin mbak Dewi dibuatkan kartu BPJS yang bisa mengcover semua biaya. Sampai akhirnya kartu BPJS jadi, dengan diuruskan Bapak, dan mbak Dewi bisa keluar dari RS.

Sampai lebaran ini, Ibu pun masih tidak tega untuk menindak lebih tegas terhadap mbak Dewi. Jadilah beliau membicarakannya dengan saudara-saudara yang lain karena mereka juga berhak atas rumah peninggalan mbah kakung dan putri yang sekarang kamar-kamarnya semua disewakan. Sang suami mbak yang malang ini belum ada kabarnya sama sekali.

Dilema!

Mungkin cerita di atas tidak jauh berbeda dengan cerita-cerita pilu lainnya macam di sinetron #CHSI, tapi bagi saya setidaknya bisa lagi lagi mencubit hati. Mungkin karena kisah ini melibatkan orang-orang yang sangat saya cintai, Ibuย  dan Bapak. Terlebih tempatnya adalah di rumah mbah dimana saya pernah setiap hari tidur malam disana hampir tiga tahun. Penuh kenangan yang indah bersama mbah Kakung dan Putri.

Kisahnya memang seperti alur sinetron dramatis, tapi bagi saya menyuratkan bahwa ujian hidup pasti ada bagi tiap tiap orang. Kala kita merasakan ujian yang kita alami saat ini begitu pahit dan rasanya kitalah orang paling menderita di dunia, ternyata ada minimal satu orang saja yang jauh lebih tragis kisah hidupnya.

Setidaknya, meski banyak orang-orang yang justru sangat merindukan kehadiran bayi, tapi Allah memberikannya pada Mbak Dewi yang dinikahi oleh suami keduanya ini secara sirri dan justru membiarkannya. Walau akhirnya Allah juga yang berkehendak mematikan lagi sang janin itu sampai belum sempat dilahirkan ke dunia.

Bersyukur saya mempunyai suami yang sangat baik dan bertanggung jawab. Mbak Dewi malah ditinggal kabur suaminya bahkan pada saat-saat yang paling kritis dalam hidupnya. Dan beruntung pula kami masih ada penghasilan untuk mengontrak rumah di perantauan dan tidak sampai menunggak dan mendzalimi si empunya rumah. Mbak Dewi dan anaknya untuk makan sehari-hari saja mungkin harus berpikir lebih keras karena tidak ada pekerjaan sama sekali. Jangankan untuk membayar kos bulanan 250.000 per bulan, untuk makan keseharian saja mereka tidak ada simpanan.

Maka, lagi-lagi nikmat Tuhan manakah yang kita dustakan? :’)

Sedikit Tentang Murabahah

Tags

, , ,

Pernah saya baca-baca tentang ekonomi syariah. Sedikit banyak jadi sudah pernah dengar istilah-istilahnya meliputi prinsip dan jenis-jenis transaksi. Alhamdulillah pernah mengikuti juga semacam diklat mengenai akuntansi syariah sekitar April 2013 lalu karena fasilitas dari kantor. Ditambah dengan banyak dengar dari orang terdekat saya saat ini (insya Allah selamanya)๐Ÿ™‚, suami sendiri, hehe. Tapi, sebagai alumnus mahasiswa diploma jurusan akuntansi konvensional dan sekarang bekerja di lingkungan ekonomi yang konvensional, jadilah mengendap hanya sebatas teorinya saja. Mungkin banyak terbantu kalau mas Priyayi Muslim sudah mulai menjelenterehkan tetek bengeknya yang walaupun belum sepenuhnya saya pahami.

Suatu siang sehabis jam istirahat, mas Priyayi Muslim menggetarkan hape yang saya geletakan di meja kerja lewat pesan yang dikirimkannya,

ย “Ada temen pengen bangun rumah secara bertahap. Dia butuh sejumlah kusen pintu dan jendela. Dianya mau kalau murabahah dengan margin 10% jangka 10 bulan dari harga dasar 5,6 juta.”

Entah saya yang lagi ngantuk atau masih setengah sadar habis acara silaturahmi kantor (alesan) sambil melompong dengan polosnya saya jawab, “Akadnya bagaimana mas? Ga paham,”

Jadi, selama ini saya mengingat-ingat transaksi murabahah adalah semacam transaksi yang kita tahu ada di bank atau perusahaan finance. Misalkan transaksi yang sudah jamak di masyarakat adalah jual beli motor melalui dealer dan lembaga finance. Tapi yang konvensional itu haram yah. Kalau murabahah yang ditawarkan ekonomi Islam ini insya Allah dijamin kehalalannya. Yang halal itu kurang lebih semacam ini, pihak A membutuhkan sebuah mobil seharga 100 juta. Tapi dia tidak punya dana sebesar itu. Kemudian ada pihak B yang mempunyai kelapangan dana saat itu membeli mobil tersebut di sebuah showroom dengan transaksi jual beli biasa. Lalu, pihak B menjual kepada pihak A. Karena pihak A tidak mempunyai dana segar sejumlah 100 juta, maka akad yang terjadi adalah kredit. Dan dibolehkan pihak B, menjual mobil tersebut kepada pihak A dengan harga lebih tinggi dari 100 juta karena akad yang terjadi adalah kredit. Misalkan, disepakati harga mobil itu menjadi 125 juta yang akan dilunasi pihak A selama 12 bulan.

Kurang lebih begitulah, transaksi murabahahnya. Insya Allah halalan wa thayyiban. (Kalau ada yang kurang dari penggambaran transaksi murabahah di atas, mohon koreksi yah? ^^). Nah! dimanakah letak kepolosan saya siang ini? Selama ini saya menganggap transaksi murabahah, mudharabah, salam, istisna’, dll, itu biasanya bank-bank atau lembaga keuangan syariah yang mengurusi. Lalu sekoyong-konyong, hari ini ada suatu tawaran yang mampir dan mungkin terkesan amat sederhana karena menyangkut kehidupan kita sehari-hari, yaitu bangun rumah. Yak, bangun rumah kan memang perlu dana yang lumayan yah.๐Ÿ˜€

Ternyata, dengan kondisi kita yang mungkin tidaklah mempunyai dana cukup besar namun mempunyai itikad baik membangun rumah secara syari, berkah, dan halal bisa diikuti transaksi semacam teman mas Priyayi Muslim tersebut. Hehehe, memanglah sangat dibutuhkan kesabaran lebih besar karena rumah dibangun pun berdasarkan azas seadanya. Misalkan, adanya dana baru bisa untuk beli batu dan semen berarti buat pondasinya saja. Kapan lagi kalau sudah kumpul uang, beli batanya dulu, entah mau dibangun kapan. kapan lagi nyicil beli keramiknya.๐Ÿ˜€

Jadi ingat beberapa malam lalu, mas Priyayi Muslim bilang begini, “Pingin punya rumah gak suatu saat nanti? Atau sampai tua bakalan ngontrak kayak gini terus?”. Sebagai istri yang mempunyai pandangan hidup visioner *jiyaaah, tentu saya menjawab dengan pasti pingin punya rumah sendiri. Urusan mau bagaimana cara dan metode beli dan bangunnya ya kan sebagai istri yang baik kita serahkan saja pada ahlinya toh, hihihi.

Alhamdulillah, paling tidak siang ini ada pencerahan baru, khususnya bagi saya. Transaksi yang mungkin pelafalannya saja kita cukup sulit, murabahah, mudharabah, dll, tapi kalau kitanya memang itikad mau menerapkan ternyata bisa kita aplikasikan ke berbagai sendi kehidupan bahkan tanpa perlu melibatkan bank dan lembaga keuangan.

Allahumma yassir, Duhai Rabb, mudahkan kami umat muslim untuk selalu berada di dalam jalan yang diberkahi dalam memenuhi banyak kebutuhan dunia yang kami impikan: rumah, mobil, perhiasan, dll.๐Ÿ˜€

Status

Bersikap!

Tags

, , ,

Syahrul Mubarak 1435 H: Alhamdulillah, Allah sampaikan kita hingga detik-detik ini menikmati setiap limpahan berkah Ramadhan. Dan di bulan tarbiyah ini pula, Allah lengkapi dengan berbagai peristiwa, atas suatu kehendak bahwa Allah ingin menyaksikan sebaik-baik penghambaan kita.

Setidaknya bagi bangsa Indonesia, baru saja kemarin kita menunaikan salah satu kewajiban bernegara yakni memilih presiden untuk memimpin bangsa ini lima tahun ke depan. Belum lagi, godaan bola berputar yang sangat memikat, Piala Dunia 2014. Dan, ternyata Allah belum habis memberikan kita akan peringatan bahwa pentingnya negeri Palestina bagi umat muslim di seluruh dunia. Bukan dengan sia-sia Allah Swt. mengadakan berbagai peristiwa ini, melainkan ada maksud yang ingin Allah sampaikan.

Kini, sudahkah kita dapat menangkap sinyal-sinyal yang tak pernah bosan Allahย  berikan untuk lagi-lagi mengetuk pintu hati hamba-hamba-Nya?

Ketika ada sebagian orang yang berkomentar, “Siapapun presidennya tidak akan pengaruh buat kita. Tunjangan PNS tetap tidak akan naik.” MIRIS. Benar-benar miris kata saya. Apa iya sih kalau ada presiden baru tapi yang kita perhatikan tetap kepentingan diri sendiri. Memang, hidup itu perlu makan dan kesejahteraan. Tapi hidup itu bukan hanya soal nafsu perut dan bawah perut, keleeees. -_-

SBY tunjuk dada

SBY tunjuk kepalaHati dan pikiran, bukankah keduanya juga perlu diasupi makanan? Karena ianya adalah pijar ruhiyah seorang manusia. Ketika hati dan pikiran manusia itu mati, maka tidaklah ada bedanya manusia hidup itu bagai seonggok bangkai saja yang masih lalu-lalang. Na’udzubillah min dzalik!

Pilpres 9 juli 2014 kemarin sebetulnya bukan hanya sekedar pertarungan ambisi dari dua orang anak bangsa. Pertarungan kemarin, jika kita mau tahu, sebetulnya adalah pertarungan antara kita yang cinta syariat Islam dan yang benci dengan syariat Islam. Pertarungan antara yang haq dan bathil seperti ini kok bisa-bisanya kita kecilkan demi nafsu perut semata. MIRIS!

Pun ketika hasilnya ternyata masih membelah rakyat Indonesia dalam dua kutub di belakang masing-masing calon yang tiap-tiap kubu memenangkan calon pilihannya, sehingga membuat kita pun yang mendukung salah satu pasangan calon ikut gemetar dan khawatir. Bukan sekedar khawatir kalau calon kita kalah, bukan! Calon yang kami pilih insya Allah adalah karena atas dasar kecintaan kita pada agama dan dakwah. Bagaimana bisa kita akan tenang-tenang saja saat ancaman terhadap kelangsungan dakwah di masa mendatang akan semakin besar bila calon yang kita tolak ternyata menang.

Lalu di beberapa forum diskusi yang sama-sama saling memanas dan menyulut kekhawatiran, ada sebagian yang berpikir khusnudzon saja. Toh kalau Allah menghendaki berbagai aliran sesat yang berada di belakang calon seberang musnah dari Indonesia itu mudah bagi Allah.

Ah iya betul! Nasihat itu seakan menjadi air dingin yang disiram pada tubuh kita yang kepanasan. Adem dan segar. Tidak ada yang membantah kalau kita kudu khuznudzon sama takdir Allah. Tapi sungguh hati ini lagi-lagi miris. Pada suasana yang mencekam seperti saat ini, khuznudzon itu adalah suatu barang yang wajib. Tapi bukan itu saja yang Allah mau. Bukan lantas kita pasrah dan ikut saja kemana takdir Allah berpihak.

Benar mudah sekali bagi Allah menjadikan semua makhluk-Nya beriman, tapi sejak dulu, sejak awal bumi ini diciptakan tidak pernah berlaku sunnatullah-Nya bahwa kita semua akan beriman. Padahal, sekali lagi, mudah bagi Allah menjadikan kita semua umat yang satu. Justru Allah menjadikan ada yang haq dan yang bathil karena sesungguhnya Allah Swt ingin melihat siapa yang golongan beramar ma’ruf wa nahiy munkar dan siapa orang-orang yang justru termakan fitnah.

Apapun hasilnya nanti, siapapun presiden kita nanti, memang itulah takdir Allah yang terbaik, dan kita wajib mengimani sekaligus berkhuznudzon terhadapnya. Namun jika memang benar takdir Allah justru memenangkan calon presiden yang di belakangnya adalah orang-orang yang bermulut menjijikan macam orang JIL, yang disokong penuh oleh orang-orang biadab yang selalu melecehkan Rasulullah, ummul mukminin, keluarganya, dan para sahabatnya macam orang SYIAH, yang dibiayai sempurna oleh orang-orang yang dalam dadanya sangat benci akan Islam macam orang-orang sekuler, sejatinya saat ini Allah Swt. ingin menampakkan wajah umat muslim Indonesia yang sebenarnya. Dimana kesunnian kita yang makin kronis dan makin kritis. Justru inilah yang ingin Allah bukakan untuk kita sebelum akhirnya terlambat dalam menyadari.

Seperti kaum muslimin Palestina yang tidak pernah meninggalkan khusnudzonnya pada Allah. Menghadapi kenyataan bahwa mereka lah orang-orang yang Allah muliakan semenjak lahir telah diberikan kesempatan untuk berada di garda terdepan mewakili seluruh umat muslim sedunia, menjaga warisan umat Masjidil Aqsa, kiblat pertama, dan bumi Syams yang kita semua yakini adalah tanah wakaf Khalifah Umar Al Faruq ini tak boleh sejengkal pun ditinggalkan. Namun kita tak pernah dengar mereka yang Allah besarkan di bumi syahid bersimbah darah itu pernah menyerah. Bahkan selangkah pun mereka tetap bergeming menjaga amanah ini.

Padahal mungkin mereka tahu, bahwa kebiadaban Israel tidak akan pernah berakhir sampai dunia yang fana ini juga berakhir. Karena Allah dan Rasul-Nya telah berulang kali memperingatkan akan datangnya tanda-tanda akhir zaman salah satunya adalah peperangan di bumi suci ini. Orang-orang Palestina ini yang membuat kita cemburu siang-malam tidak akan pernah kehabisan khuznudzon tapi mereka nyata-nyata tetap berani melawan dan memerangi Israel Laknatullah. Sesungguhnya karena di balik khuznudzonnya terhadap takdir Allah karena mereka ingin berlomba-lomba meraih kesempatan emas, syahadah. Mereka mencintai kematian sama seperti orang-orang Israel Laknatullah mencintai kehidupan. Sungguh mereka tidak pernah berhenti bergerak dan sangat menyadari peran pentingnya menjaga warisan umat.

 

Status

#FREEPALESTINE #SAVEGAZA #ISRAELBIADAB

Tags

, , ,

#FREEPALESTINE #SAVEGAZA #ISRAELBIADAB

Mau tahu Negara yang tidak punya malu, mencaplok dan mengklaim tanah air suatu bangsa? #FreePalestine

Mengaku-ngaku Negara modern, tapi sampai detik ini tingkahnya sangat biadab. #FreePalestine

Mereka bunuh semua: bapak, ibu, anak-anak. Mereka takut karena Gaza adalah gudangnya para huffadz (penghafal Al Quran) #FreePalestine

Mereka takut jika ISLAM bangkit karena sejatinya mereka tahu tidak akan pernah bisa mengalahkan kekuatan iman dan islam. #FreePalestine

Orang-orang bodoh bilang untuk apa bertahan di negerinya kalau setiap hari dibantai? Hei, Tahukah kamu? Kita, umat muslim, seluruh dunia seharusnya berterima kasih kepada bangsa Palestina? #FreePalestine

Mereka bertahan di sana karena membela kita semua, menjadi garda terdepan umat muslim. Apa yang mau kita jawab di hari akhirat nanti padahal Allah menitipkan masjid suci Al Aqsa dan kiblat pertama umat muslim di Palestina? Apa yang bisa kita jawab atas AMANAH harta seluruh kaum muslimin bahwa Negeri Palestina adalah TANAH WAKAF KHALIFAH UMAR AL FARUQ #FreePalestine

Tapi selama ini kita abai, pura-pura sibuk, tidak acuh sama sekali, masih menarik bola menggelinding direbutin, masih menarik gosip para artis, masih menarik film dan lagu baru. Astaghfirullah #FreePalestine

Buruan, cek internet kamu. Internet bukan cuma buat main games, ngetwit keluhan, nyetatus pamer. BANGUN!!! Masih untung kita ramadhan dengan nyaman walaupun kita masih sering menyia-nyiakan. ANAK-ANAK PALESTINA setiap hari sahur dan buka ditemani bom-bom Molotov Israel Laknatullah #FreePalestine

Udah GA ZAMAN: bilang MIKIRIN DALAM NEGERI AJA NGAPAIN JAUH-JAUH MIKIRIN PALESTINA!

SEKARANG, apa yang kita bisa? BANTU MEREKA SEMAMPU KITA, dengan DOA DAN SANTUNAN. MALU karena saat kita tsunami dan terhempas berbagai bencana, PALESTINA tidak pernah luput membantu kita meski kondisi mereka GAWAT DARURAT.

Pesan Kehidupan

Masya Allah T.T

Diary Kehidupan

[21:02 22/06/2014] Odoj Leni Admin: Innalillahi wainna ilaihi raajiโ€™uun
Telah meninggal dunia dek Fajar, odojer akhwat 846 pukul 19.50
Beberapa jam sebelumnya, adminnya mengabarkan fajar sedang di ICU krn drop pasca operasiโ€ฆ

Ini dr adminnya :
dy lemah jantung dr kecil dan dvonis kanker dari smp. kmaren baru lulus SMA dan pgn ke ITBโ€ฆ

Dia rajin dan kritikus d grupku,, aku sgt senang jika ada dy klo lg diskusiโ€ฆ
dy plg tidak suka dkasihaniโ€ฆ
tegar,, periangโ€ฆ kuat prinsipnyaโ€ฆ
bhkan bln ni udah mau jd hafidzoh..๏˜ญ๏˜ญ

tggl beberapa juz,, allah mentakdirkan lain,, 3 hr yg lalu dy bertabrakan dan butuh darah banyk. stock dsni sdikit dan ngambil d eropa,,
operasipun kmaren katanya sukses tp td pg ngedrop lgโ€ฆ dan malem ini kami d infokan udah tiadaaa๏˜ญ๏˜ญ๏˜ญ๏˜ญ

View original post 235 more words