hak dan kewajiban suami istri

Keseimbangan Hak dan Kewajiban Pasangan (2)

Posted on

 jumgkat jungkit

Seorang isteri berhak mendapatkan suami yang berhias sebagaimana suami berhak atas isteri yang berhias untuk suaminya. Berhiasnya suami disesuaikan dengan kondisi dan situasi agar keharmonisan rumah tangga dan isteri tidak berpaling kepada laki-laki lain.

Saat ada yang menegurnya ketika ia mencukur jenggotnya, Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya aku berhias untuk isteriku sebagaimana ia berhias juga untukku. Aku tidak suka hanya mengambil hakku saja yang ada padanya, tapi ia pun berhak mengambil haknya yang ada pada diriku. Allah berfirman, ‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.’ (Al Baqarah: 228)”

Isteri juga berhak diajari berbagai persoalan agama atau menghadiri kajian-kajian keilmuan, sebab kebutuhan itu untuk memperbaiki kualitas agama dan menyucikan jiwanya. Isteri adalah bagian dari keluarga yang harus dijaga suami agar tidak menjadi bahan bakar neraka. Dan penjagaan dirinya itu adalah dengan iman dan amal shalih. Sedangkan amal shalih itu harus berdasarkan ilmu dan pengetahuan, sehingga ia dapat melaksanakannya sesuai yang diperintahkan syariat.

Pernikahan dalam Islam selalu menyediakan hak dan kewajiban yang saling melengkapi dan berkebalikan. Hak isteri merupakan kewajiban suami, dan hak suami merupakan kewajiban isteri.

Syaikh Sayyid Sabiq berkata, “Di antara hak suami terhadap isteri adalah menaati suami dalam hal-hal yang bukan maksiat, isteri menjaga kehormatan dirinya dan harta suami, menjauhkan diri dari mencampuri sesuatu yang dapat menyusahkan suami, tidak bermuka masam di hadapannya, dan tidak menunjukkan sikap yang tidak disenangi.”[1]

Seorang wanita yang menikah meletakkan ketaatan utamanya bukan lagi pada kedua orang tuanya. Sejak akad nikah diucapkan, maka tanggung jawab terhadapnya dan ketaatan oleh dirinya berpindah kepada lelaki yang menjadi suaminya.

Dari Aisyah, ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Siapakah orang yang wajib diutamakan haknya oleh seorang perempuan?’ Rasulullah mejawab, ‘Suaminya.’ Aku bertanya lagi, ‘Siapakah orang yang wajib diutamakan haknya oleh seorang laki-laki?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibunya.’” (HR Hakim)

Ketatan dan kesyukuran isteri kepada apa yang diberikan dan diperintahkan suami kepadanya akan membawa implikasi yang panjang hingga ke akhirat. Ia akan membawa seseorang menuju neraka atau surga.

Termasuk ketaatan adalah dalam urusan seksual. Jika seorang suami menghendaki berhubungan dengan isterinya, iserinya tersebut tidak boleh menolaknya meskipun ia dalam kesibukan. Bahkan jika saat itu ia sedang dalam kondisi haid karena suami masih boleh mencumbui isterinya di bagian atas. Namun, hendaklah para suami juga memperhatikan kondisi isterinya untuk mengajaknya berhubungan karena hal ini lebih mendekatkan pada kuatnya hubungan kasih sayang. Seorang perempuan yang haid biasanya sedang dalam kondisi fisik dan psikis yang tidak stabil.

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Jika suami mengajak isterinya ke tempat tidur, lalu dia menolak ajakan tersebut hingga suami menjadi marah, para malaikat akan melaknatnya sampai tiba waktu pagi.” (HR Ahmad, Bukhari, dan Muslim)

Kewajiban taat kepada suami ini hanya dalam hal-hal yang dibenarkan oleh syari’at karena tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah.

Suami juga berhak mendapatkan seorang isteri yang cantik dengan berhias, seperti memakai celak, pacar, wangi-wangian, atau alat hias lainnya, khusus untuk suaminya.

Dari Karimah binti Hamam, bahwa ia bertanya kepada Aisyah, “Bagaimana pendapatmu, wahai Ummul Mukminin, tentang hukum memakai pacar?” Aisyah menjawab, “Kekasihku, Nabi, menyukai warnanya, tapi membenci baunya. Beliau tidak mengharamkan kamu memakai pacar antara dua masa haid atau setiap kali datang haid.” (HR Ahmad)


[1] Fikih Sunnah

Keseimbangan Hak dan Kewajiban Pasangan (1)

Posted on

Muslim-couple

Syaikh Sayyid Sabiq menyebutkan bahwa suami isteri mempunyai hak bersama, yakni mereka diperbolehkan saling menikmati hubungan seksual secara timbal balik; isteri haram dinikahi oleh ayah suaminya, kakeknya, anaknya, dan cucu-cucunya; begitu pula ibu isterinya, anak perempuannya, dan seluruh cucunya haram dinikahi suaminya;  mendapatkan hak saling mewarisi akibat dari ikatan pernikahan yang sah; menasabkan anak kepada suaminya yang sah; dan bersikap baik diantara keduanya.[1]

Abu Bakar Jabir Al Jazairi menyebutkan hak-hak yang sama antara suami-isteri yang lain, yakni bersikap amanah terhadap pasangannya, dan tidak mengkhianatinya sedikit ataupun banyak karena suami isteri adalah laksana dua mitra yang dari keduanya harus ada sifat amanah, saling menasihati, jujur, dan ikhlas dalam semua urusan pribadi dan umum keduanya; memberikan cinta kasih yang tulus kepada pasangannya sepanjang hidup; mempercayai pasangannya, tidak meragukan kejujurannya, nasihatnya, dan keikhlasannya; serta melaksanakan etika umum seperti lemah lembut dalam pergaulan sehari-hari, wajah yang berseri-seri, ucapan yang baik, penghargaan, dan penghormatan.[2]

Seorang isteri berhak memperoleh hak kebendaan dari suaminya yaitu mahar dan nafkah. Suami wajib memberikan mahar kepada isteri sesuai yang diperintahkan Allah kepada kaum lelaki.

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (An Nisa’: 4)

Mahar yang ditentukan oleh perempuan dan diberikan oleh laki-laki akan menumbuhkan kasih sayang di antara keduanya. Oleh karena itu, seorang perempuan hendaklah tidak meminta mahar yang sulit dipenuhi oleh laki-laki, karena hal ini bisa saja menimbulkan bibit ketidaksukaan diantara keduanya. Bahkan, seorang wanita yang memperingan mahar akan membawa keberkahan dalam pernikahannya.

Tentang kewajiban nafkah suami terhadap isteri, Syaikh Sayyid Sabiq menjelaskan maksud nafkah adalah memenuhi kebutuhan makan, tempat tinggal, pembantu rumah tangga, dan pengobatan isteri jika ia orang kaya. Pemberian nafkah ini hukumnya wajib.

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (Al Baqarah: 233)

Jika seorang suami secara nyata tidak mampu memberikan nafkah kepada isterinya, misalnya karena miskin, seyogyanya seorang isteri tidak menuntut secara berlebihan dari suaminya. Bahkan dianjurkan bagi seorang isteri untuk membantu kondisi perekonomian keluarga. Seandainya sang isteri memberikan bantuan finansial kepada suami, maka ia mendapatkan dua pahala sekaligus. Pahala sedekah dan pahala kekerabatan.

Selain memperoleh hak kebendaan, seorang isteri juga berhak atas hak ruhani. Seorang suami harus berlaku dan bergaul dengan baik kepada isterinya.

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An Nisa’: 19)

Syaikh Sayyid Sabiq berkata, “Kewajiban suami terhadap isteri adalah menghormatinya, bergaul dengan baik, memperlakukannya dengan wajar, mendahulukan kepentingannya yang memang patut didahulukan untuk menyenangkan hatinya, lebih-lebih bersikap menahan diri dari sikap yang kurang menyenangkan di hadapannya, dan bersabar ketika menghadapi setiap permasalahan yang ditimbulkan oleh isteri.”

Rasulullah bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Orang yang paling baik diantara kamu yaitu yang berakhlak baik kepada isterinya.”

Islam menginginkan agar suami bersikap adil terhadap isterinya. Jika ia tidak menyenangi salah satu sifat isterinya, ia masih bisa mendapatkan sesuau yang membuatnya menyenanginya dari isterinya tersebut.

Seorang suami juga harus menjaga isterinya dari berbagai hal yang menodai kehormatannya, menjaga harga dirinya, menjunjung kemuliaannya, menjauhkannya dari pembicaraan yang tidak baik. Semua ini termasuk sifat cemburu yang disenangi Allah.

Seorang isteri juga berhak atas kebutuhan biologisnya dari suami, yakni hubungan seksual.

“Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.” (Al Baqarah: 222)

Dalam Fiqhus Sunah, dijelaskan bahwa disunnahkan suami dan isteri bercumbu rayu, saling bersenda gurau, saling merayu, mencium, dan suami mestilah menahan ejakulasi sehingga isteri juga merasakan kepuasan.

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda, “Jika seseorang diantaramu bersenggama dengan isterinya, hendaklah ia melakukannya dengan penuh semangat. Jika dia sudah hendak ejakulasi, sementara isterinya belum sampai pada klimaksnya, janganlah ia tergesa-gesa (untuk mengakhiri persetubuhan) sebelum klimaks isterinya terpenuhi.” (HR Abu Ya’la)

Suami isteri dilarang menceritakan masalah persenggamaan mereka kepada orang lain, kecuali untuk pengaduan hukum dan kesehatan. Siapa yang menceritakan rahasia persenggamaannya, maka ia  seperti syaitan yang bersetubuh di tempat umum.

Dari Abi Sa’id, bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya, orang yang paling buruk kedudukannya di hari kiamat di sisi Allah adalah laki-laki yang menyetubuhi isterinya kemudian ia menceitakan rahasia si isteri.” (HR Ahmad)


[1] Fikih Sunnah

[2] Minhajul Muslimin